Materi : Leader Ship
Dosen :
A. Muhammad Yusri Teja, S.Pd, M.Pd
HAKIKAT KEPEMIMPINAN DAN MENJADI PEMIMPIN YANG BAIK
MENURUT ISLAM

OLEH
Nama :
Junaidi
Nim : 13 – 31 - 040
Fakultas/
Jurusan : Tarbiyah/ PAI
SEKOLAH
TINGGI AGAMA ISLAM DARUD DA’WAH WAL- IRSYAD (STAI DDI)
KABUPATEN
MAROS
TAHUN AJARAN 2014/ 2015
KATA PENGANTAR
Puji syukur penyusun panjatkan ke
hadirat Tuhan Yang Maha Esa, karena dengan karunia-Nya kami dapat menyelesaikan
Makalah Leadership. Adapun judul yang kami angkat, yaitu tentang “Hakikat
Kepemimpinan dan menjadi pemimpin yang baik menurut islam”. dalam Tujuan
penulisan makalah ini adalah untuk menambah pengetahuan kepada pembaca di
bidang agama Islam, khususnya dalam peran manusia sebagai khalifah di muka
bumi.
Manusia, sebagai makhluk ciptaan
Allah SWT yang paling sempurna harus sadarakan keberadaan dirinya, tidak takut
untuk mengubah kehidupannya untuk menjadi lebih baik, dan tidak berhenti untuk
terus menimba ilmu dalam kehidupan guna keluar dari kebodohan imannya dan
menuju peningkatan nilai dan kecerdasan takwa dirinya kepada Sang Maha
Pencipta.Kami menyadari bahwa masih banyak kekurangan pada penulisan ini.
Dengan segala kerendahan hati penulis mengharap kritik dan saran. Tak ada gading
yang tak retak, kesempurnaan hanyalah milik Allah SWT semata.Semoga makalah ini
menjadi pelita bagi individu yang ingin mengembangkan kepribadian dirinya.
Amin.
DAFTAR
ISI
Halaman Judul ...........................................................................................
Kata Pengantar
........................................................................................... i
Daftar Isi
..................................................................................................... ii
BAB I : PENDAHULUAN
..................................................................... 1
A. Latar Belakang
............................................................................... 1
B. Rumusan Masalah
......................................................................... 1
BAB II : PEMBAHASAN
........................................................................ 2
A. Hakikat kepemimpinan
................................................................. 2
B. Kriteria pemimpin
......................................................................... 3
C. Ciri-ciri pemimpin menurut Islam
............................................... 3
D. Syarat- syarat Pemimpin Dalam Islam
........................................ 6
E. Kepemimpinan dalam Islam
......................................................... 8
F. Hubungan Kepemimpinan dalam Al-Qur’an
............................. 9
BAB III : PENUTUP
................................................................................. 13
A. Kesimpulan
.................................................................................... 13
B. Saran
.............................................................................................. 14
BAB
I
PENDAHULUAN
A. LATAR
BELAKANG
Manusia adalah
makhluk sosial yang tidak dapat hidup sendiri. Dalam hidup, manusia selalau
berinteraksi dengan sesama serta dengan lingkungan. Manusia hidup berkelompok
baik dalam kelompok besar maupun dalam kelompok kecil. Hidup dalam kelompok tentulah
tidak mudah. Untuk menciptakan kondisi kehidupan yang harmonis anggota kelompok
haruslah saling menghormati dan menghargai. Keteraturan hidup perlu selalu
dijaga. Hidup yang teratur adalah impian setiap insan. Menciptakan dan menjaga
kehidupan yang harmonis adalah tugas manusia.
Manusia adalah
makhluk Tuhan yang paling tinggi dibanding makhluk Tuhan lainnya. Manusia
dianugerahi kemampuan untuk berpikir, kemampuan untuk memilah dan memilih mana
yang baik dan mana yang buruk. Dengan kelebihan itulah manusia seharusnya mampu
mengelola lingkungan dengan baik. Allah SWT menjadikan manusia sebagai khalifah
di muka bumi hanya untuk menyembah dan beribadah kepadaNya. Mengerjakan segala
perintahNya, mulai dari shalat, puasa, zakat, dan segala hal yang mendatangkan
kemaslahatan bagi diri manusia itu sendiri dan menjauhi laranganNya agar dapat
mencegah kerusakan di muka bumi.
B.
Rumusan
Masalah
1. Bagaimanakah hakikat kepemimpinan itu ?
2. Bagaimana bentuk kriteria pemimpin yang baik
?
3. Seperti apa kepemimpinan dalam islam dan
bagaimana menjadi pemimpin yang baik serta kaitannya dalam ayat ?
BAB II
PEMBAHASAN
A.
Hakikat Kepemimpinan
Dalam kehidupan
sehari – hari, baik di lingkungan keluarga, organisasi, perusahaan sampai
dengan pemerintahan sering kita dengar sebutan pemimpin, kepemimpinan serta
kekuasaan. Ketiga kata tersebut memang memiliki hubungan yang berkaitan satu
dengan lainnya. Pemimpin adalah orang yang mendapat amanah serta memiliki
sifat, sikap, dan gaya yang baik untuk mengurus atau mengatur orang lain.
Kepemimpinan
adalah kemampuan seseorang mempengaruhi dan memotivasi orang lain untuk
melakukan sesuatu sesuai tujuan bersama. Kekuasaan adalah kemampuan untuk
mempengaruhi orang lain untuk mau melakukan apa yang diinginkan pihak lainnya.
Ketiga kata yaitu pemimpin, kepemimpinan serta kekuasaan yang dijelaskan
sebelumnya tersebut memiliki keterikatan yang tak dapat dipisahkan. Karena
untuk menjadi pemimpin bukan hanya berdasarkan suka satu sama lainnya, tetapi
banyak faktor. Pemimpin yang berhasil hendaknya memiliki beberapa kriteria yang
tergantung pada sudut pandang atau pendekatan yang digunakan, apakah itu
kepribadiannya, keterampilan, bakat, sifat – sifatnya, atau kewenangannya yang
dimiliki yang mana nantinya sangat berpengaruh terhadap teori maupun gaya
kepemimpinan yang akan diterapkan.
B. Kriteria Pemimpin
Adapun kriteria pemimpin itu
sendiri, yakni:
a.
Pemimpin yang mukmin.
b.
Tegas dalam menjalankan perintah Tuhan.
c.
Takut kepada Allah swt sewaktu mengurusi orang-orang
yang dipimpinnya.
d.
Tidak menzalimi siapapun.
e.
Tidak memerkosa hak-hak orang lain.
f.
Menegakkan dan bukan melecehkan hudud Allah swt.
g.
Membahagiakan rakyatnya dengan mengharap rida Allah
swt.
h.
Orang kuat di sisinya menjadi lemah sehingga si lemah
dapat mengambil kembali haknya yang
direbut si kuat.
i.
Orang lemah di sisinya menjadi kuat sehingga haknya
dapat terlindungi.
j.
Menampakkan kepatuhan kepada Allah swt dalam menetapkan
kebijakan
k.
Semua orang
hidup aman dan tenteram.
l.
Sangat mencintai manusia, begitu pula sebaliknya.
m.
Selalu mendoakan manusia, begitu pula sebaliknya.
pemimpin yang terbaik dan termulia di sisi Allah swt dan manusia.
C. Ciri-Ciri
Pemimpin Menurut Islam
Adapun ciri-ciri
pemimpin menurut islam adalah sebagai berikut :
1.
Niat Yang Tulus
Apabila
menerima suatu tanggung jawab, hendaklah didahului dengan niat sesuai dengan
apa yang telah Allah perintahkan. Iringi hal itu dgn mengharapkan keredhaan-Nya
sahaja. Kepemimpinan atau jabatan adalah tanggung jawab dan beban, bukan
kesempatan dan kemuliaan.
2.
Laki-Laki
Wanita
sebaiknya tidak memegang tampuk kepemimpinan. Rasulullah Shalallahu’alaihi wa
sallam bersabda,”Tidak akan beruntung kaum yang dipimpim oleh seorang wanita
(Riwayat Bukhari dari Abu bagaimana bentuk kriteria pemimpin yaBakarah
Radhiyallahu’anhu).
3.
Tidak Meminta Jabatan
Rasullullah bersabda
kepada Abdurrahman bin Samurah Radhiyallahu’anhu,”Wahai Abdul Rahman bin
samurah! Janganlah kamu meminta untuk menjadi pemimpin. Sesungguhnya jika
kepemimpinan diberikan kepada kamu karena permintaan, maka kamu akan memikul
tanggung jawab sendirian, dan jika kepemimpinan itu diberikan kepada kamu bukan
karena permintaan, maka kamu akan dibantu untuk menanggungnya.” (Riwayat
Bukhari dan Muslim).
4.
Berpegang Dan Konsisten
Pada Hukum Allah
Ini salah
satu kewajiban utama seorang pemimpin.Allah berfirman,”Dan hendaklah kamu
memutuskan perkara diantara mereka menurut apa yang diturunkan Allah, dan
jaganlah kamu mengikuti hawa nafsumereka.”(al-Maaidah:49).
5.
Memutuskan Perkara Dengan
Adil
Rasulullah
bersabda,”Tidaklah seorang pemimpin mempunyai perkara kecuali ia akan datang
dengannya pada hari kiamat dengan keadaan terikat, entah ia akan diselamatkan
oleh keadilan, atau akan dijerusmuskan oleh kezalimannya.” (Riwayat Baihaqi
dari Abu Hurairah dalam kitab Al-Kabir).
6.
Senantiasa Ada Ketika
Diperlukan Rakyat
Hendaklah
selalu membuka pintu utk setiap pengaduan dan permasalahan rakyat. Rasulullah
bersabda,”Tidaklah seorg pemimpin atau pemerintah yg menutup pintunya terhadap
keperluan, hajat, dan kemiskinan kecuali Allah akan menutup pintu-pintu langit
terhadap keperluan, hajat, dan kemiskinannya.” (Riwayat Imam Ahmad dan
At-Tirmidzi).
7.
Menasihati Rakyat
Rasulullah
bersabda,”Tidaklah seorg pemimpin yg memegang urusan kaum Muslimin lalu ia
tidak bersungguh-sungguh dan tidak menasihati mereka, kecuali pemimpin itu tidak
akan masuk syurga bersama mereka (rakyatnya).”
8. Tidak Menerima Hadiah
Seorang
rakyat yg memberikan hadiah kepada seorang pemimpin pasti mempunyai maksud
tersembunyi, entah ingin mendekati atau mengambil hati. Oleh kerena itu,
hendaklah seorang pemimpin menolak pemberian hadiah dari rakyatnya. Rasulullah
bersabda,” Pemberian hadiah kepada pemimpin adalah pengkhianatan.” (Riwayat
Thabrani).
9.
Mencari Pemimpin Yang Baik
Rasulullah
bersabda,”Tidaklah Allah mengutus seorang nabi atau menjadikan seorang khalifah
kecuali ada bersama mereka itu golongan pembantu, yaitu pembantu yang menyuruh
kepada kebaikan dan mendorongnya kesana, dan pembantu yang menyuruh kpd
kemungkaran dan mendorongnya ke sana. Maka org yg terjaga adalah orang yang
dijaga oleh Allah,” (Riwayat Bukhari dari Abu said Radhiyallahu’anhu).
10. Lemah Lembut
Doa
Rasullullah,’ Ya Allah, barangsiapa mengurus satu perkara umatku lalu ia
mempersulitnya, maka persulitlah ia, dan barang siapa yg mengurus satu perkara
umatku lalu ia berlemah lembut kepada mereka, maka berlemah lembutlah
kepadanya.
11. Tidak Meragukan Rakyat
Rasulullah
bersabda,” Jika seorang pemimpin menyebarkan keraguan dalam masyarakat, ia akan
merusak mereka.” (Riwayat Imam Ahmad, Abu Dawud, dan Al-hakim).
12. Terbuka Untuk Menerima Ide & Kritikan
Salah satu
prinsip Islam adalah kebebasan bersuara. Kebebasan bersuara ini adalah platform
bagi rakyat utk memberi idea atau kritikan kepada kerajaan & pemimpin agar
sma mngembling tenaga & ijtihad kearah pembentukn negara yg maju. Saidina
Abu Bakar berucap ketika dilantik menjadi khalifah, beliau menegaskan
"..saya berlaku baik, tolonglah saya, dan apabila saya berlaku buruk,
betulkn saya..", manakala Khalifah Umar prnah ditegur oleh seorang wanita
ketika memberi arahan di masjid, dan beliau menerima teguran tersebut.
D. Syarat-Syarat
Pemimpin Dalam Islam
Kepemimpinan
setelah Rasulullah SAW ini, merupakan pemimpin yang memiliki kualitas spiritual
yang sama dengan Rasul, terbebas dari segala bentuk dosa, memiliki pengetahuan
yang sesuai dengan realitas, tidak terjebak dan menjauhi kenikmatan dunia,
serta harus memiliki sifat adil. Pemimpin setelah Rasul harus memiliki kualitas
spiritual yang sama dengan Rasul. Karena pemimpin merupakan patokan atau
rujukan umat Islam dalam beribadah setelah Rasul. Ketika pemimpin memiliki
kualitas spiritual yang sama dengan rasul maka pastilah ia terbebas dari segala
bentuk dosa.
Menurut
Murtadha Muthahhari, umat manusia berbeda dalam hal keimanan dan kesadaran
mereka akan akibat dari perbuatan dosa. Semakin kuat iman dan kesadaran mereka
akan akibat dosa, semakin kurang mereka untuk berbuat dosa. Jika derajat
keimanan telah mencapai intuitif (pengetahuan yang didapat tanpa melalui proses
penalaran) dan pandangan bathin, sehingga manusia mampu menghayati persamaan
antara orang melakukan dosa dengan melemparkan diri dari puncak gunung atau
meminum racun, maka kemungkinan melakukan dosa pada diri yang bersangkutan akan
menjadi nol. Saya memahami apa yang dikatakan Muthahhari derajat keimanan telah
mencapai intuitif dan pandangan bathin ini adalah sebagai telah merasakan cita
rasa realitas spiritual. Dengan adanya kondisi telah merasakan cita rasa
realitas spiritual, maka pastilah Rasulullah SAW dan Imam Ali Bin Abi Thalib
beserta keturunannya tadi terbebas dari segala bentuk dosa.
Kondisi
ini juga akan berkonsekuensi pada pengetahuannya yang sesuai dengan realitas
dari wujud atau pun suatu maujud. Ketika pemimpin tersebut mengetahui realitas
dari seluruh alam, maka pastilah ia tahu akan kualitas dari dunia ini yang
sering menjebak manusia. Kemudian seorang pemimpin haruslah juga memiliki sifat
adil. Rasulullah SAW pernah berkata bahwa, ”Karena keadilanlah, maka seluruh
langit dan bumi ini ada.” Imam Ali Bin Abi Thalib mendefiniskan keadilan
sebagai menempatkan sesuatu pada tempatnya yang layak. Keadilan bak hukum umum
yang dapat diterapkan kepada manajemen dari semua urusan masyarakat.
Keuntungannya bersifat universal dan serba mencakup. Ia suatu jalan raya yang
melayani semua orang dan setiap orang. Penerapan sifat keadilan oleh seorang pemimpin
ini dapat dilihat dari cara ia membagi ruang-ruang ekonomi, politik, budaya,
dsb pada rakyat yang dipimpinnya. Misalkan tidak ada diskriminasi dengan
memberikan hak ekonomi (berdagang) pada yang beragama Islam, sementara yang
beragama kristen tidak diberikan hak ekonomi, karena alasan agama. Terkecuali
memang dalam berdagang orang tersebut melakukan kecurangan maka ia diberikan
hukuman, ini berlaku bagi agama apapun.
E. Kepemimpinan
Dalam Islam
Dalam
ajaran agam Islam, hadits nabi menyebutkan bahwa setiap manusia adalah seorang
pemimpin, apakah ia sebagai kepala keluarga, sebagai imam suatu umat, seorang
wanita yang kedudukannya sebagai ibu rumah tangga dan bahkan seorang pembantu
sekalipun ia adalah seorang pemimpin.
Hal
ini didasarkan pada hadits Nabi yang berbunyi :Artinya : Abu Nu’man
menceritakan hadits kepada kami, Hammad ibnu Zaid menceritakan hadits kepada
kami dari Ayyub, dari Nafi’, dari Abdillah berkata: Rasulullah SAW. Bersabda
“setiap kamu adalah pemimpin dan setiap kamu akan dimintai pertanggungjawaban.
Oleh
karena itu seorang imam adalah pemimpin dan dia akan dimintai
pertanggungjawaban, dan seorang laki-laki adalah seorang pemimpin atas
keluarganya, dan setiap kamu akan dimintai pertanggungjawaban. Dan seorang
wanita (istri) adalah pemimpin atas rumah suaminya dan setiap kamu akan
dimintai pertanggungjawaban. Dan seorang hamba (pembantu) adalah pemimpin atas
harta tuannya dan setiap kamu akan dimintai pertanggungjawaban. pertanggungjwaban
atas kepemimpinannya” .
Sesungguhnya
banyak hal yang bisa dijabarkan dari sifat Rasulullah SAW namun semoga 4 sifat
teladan ini sungguh menjelaskan betapa sifat kepempimpinan beliau mengakar
kepada kita walau beliau telah wafat beberapa abad yang lalu, sifat
kepemimpinan beliau disegani kawan dan dihormati lawan sekalipun.
1.
Shiddiq (Jujur)
Ini adalah sifat kejujuran yang sangat ditekankan Rasul baik
kepada dirinya maupun pada para sahabat-sahabatnya (Semoga kita juga
meneladaninya).Adalah ciri seorang muslim untuk jujur. Sehingga Islam bukan
saja menjadi sebuah agama namun juga peradaban besar.
2.
Amanah(bisa dipercaya)
Sifat ini ditanamkan khususnya kepada para sahabat yang
ditugaskan di semua hal apa saja untuk bisa berbuat amanah, tidak curang (atau
juga korupsi di zaman sekarang) dalam hal apa saja. Sesuatu yang sekarang
menjadi sangat langka di negeri muslim sekalipun (miris).
3. Tabligh (Menyampaikan yang
benar).
Ini adalah sebuah sifat Rasul untuk tidak
menyembunyikan informasi yang benar apalagi untuk kepentingan umat dan agama.
Tidak pernah sekalipun beliau menyimpan informasi berharga hanya untuk dirinya
sendiri. Subhanallah.
4. Fathonah (Cerdas).Sifat
Pemimpin adalah cerdas dan mengetahui dengan jelas apa akar permasalahan yang
dia hadapi serta tindakan apa yang harus dia ambil untuk mengatasi permasalahan
yang terjadi pada umat.
F. Hubungan Kepemimpinan Dalam Al-Qur’an
Adapun hubungan
QS Yunus ayat 14 dengan Kepemimpinan, yakni :
1. Kalimat ”Kemudian Kami jadikan kamu pengganti-pengganti
(mereka) di muka bumi sesudah mereka,…”. Dalam kalimat ini mengandung makna
bahwa setelah umat-umat yang terdahulu hancur. Maka Allah mengganti dengan umat
Muhammad saw., umat yang mengikuti agama Islam, agama yang membawa manusia kepada
kebahagiaan hidup di dunia dan di akhirat.
Dalam sejarah Islam dijelaskan bahwa
Rasulullah diturunkan oleh Allah ke dalam suatu komunitas masyarakat yang
dikenal dengan istilah masyarakat Arab Jahiliyah. Secara lingustik istilah
jahilyiah berasal dari kata Bahasa Arab jahala yang berarti bodoh dan tidak
mengetahui atau tidak mempunyai pengetahuan. Namun, dalam realitas yang
sesungguhnya, secara faktual saat itu masyarakat Arab yang dihadapi oleh
Rasulullah bukanlah masyarakat yang bodoh atau tidak mempunyai pengetahuan.
Buktinya pada saat itu sastra dan syair berkembang dengan pesat di kalangan
mereka. Setiap tahun diadakan festival-festival pembacaan puisi dan syair, ini
membuktikan bahwa orang-orang Arab ketika itu sudah banyak yang mengetahui baca
dan tulis. Selain itu mereka juga mampu membuat tata kota dan tata niaga yang
sangat baik. Hal ini semakin menguatkan bahwa mereka kaum Quraisy bukanlah
orang-orang bodoh dan tidak berpengetahuan. Dapat dipahami, bahwa sebenarnya
mereka adalah masyarakat yang sedang berkembang peradabannya.
Masyarakat yang dihadapi oleh Nabi
Muhammad diistilahkan dengan jahiliyah bukan karena bodoh atau tidak
berpengetahuan, atau dalam istilah lain lemah dalam aspek intelektualnya. Yang
dimaksud dengan ”kejahiliyan” (ketidaktahuan) mereka ada pada dua aspek utama,
pertama aspek akidah. Pada saat Rasulullah diutus oleh Allah, khurafat dan
mitos-mitos yang berkembang pada saat itu telah menyeret manusia untuk menjauh
dari kehidupan yang alami dan manusiawi. Dalam kondisi seperti itulah, Allah
mengutus duta terakhirnya, yaitu Nabi Muhammad SAW. Beliau membawa agama Islam
sebagai hadiah bagi umat manusia sedunia serta memberikan penafsiran baru
terhadap kehidupan manusia, selain itu beliau juga datang dengan membawa misi
untuk memberantas akar kebodohan dalam masyarakat, yakni syirik kepada Allah.
Sedangkan yang kedua
adalah aspek akhlak. Pada masa itu, akhlak atau moral sama sekali tidak
mendapat tempat dalam masyarakat jahiliah. Pada saat itu mereka melakukan
berbagai perbuatan keji tanpa merasa takut atau bersalah, di antaranya
kebiasaan mengubur bayi perempuan hidup-hidup, minum-minuman keras, berzina,
membunuh, dan lain sebagainya. Rasulullah diturunkan oleh Allah untuk
memperbaiki akhlak. Beliau menyeru masyarakat agar berpegang teguh kepada
nilai-nilai moral. Selain itu beliau juga mengajarkan kepada mereka akhlak yang
mulia.
2. Kalimat “…supaya Kami memperhatikan bagaimana
kamu berbuat. ” dimaksudkan bahwa Allah memberikan peringatan bagi kaum
Muslimin agar selalu berhati-hati tentang apa yang akan dilakukan dan mengingat
akan tugas-tugas yang diberikan Allah swt. kepada manusia sebagai khalifah
Allah di bumi.
Secara umum, seorang pemimpin
berkewajiban menjalankan hal-hal sebagai berikut:
a.
Menjaga agama agar tetap pada porosnya yang abadi.
Seandainya muncul seorang mubtadi’ (yang mengada-ada dalam urusan agama), ia
(pemimpin) harus menjelaskan kebenaran kepadanya, memberinya landasan dan
menjalankan hak serta hudud agar agama tetap terlindungi dari kerancuan
sekaligus mencegah umat dari ketergelinciran (ke jurang kesesatan).
b.
Melaksanakan hukum dan memutuskan perkara pihak-pihak
yang bertikai sehingga keadilan menjadi tegak, orang zalim tidak dapat berbuat
seenaknya, dan orang yang dizalimi tidak merasa lemah.
c.
Menjaga Islam dan menjamin keamanan agar orang-orang
dapat saling berhubungan dan hidup dalam kondisi nyaman yang berhubungan dengan
jiwa dan harta benda.
d.
Menegakkan hudud demi menjaga dan melindungi hak-hak
para hamba.
e.
Melindungi kaum muslimin dengan benteng yang kokoh serta
kekuatan yang mampu menangkal setiap serangan musuh-musuh yang sangat
berpotensi menghancurkan atau menumpahkan darah kaum muslimin atau orang-orang
nonmuslim yang berada di bawah perlindungan pemerintahan Islam.
f.
Melancarkan jihad terhadap orang yang telah diberi
keterangan tentang ajaran Islam namun kemudian melakukan penentangan-sampai
dirinya memeluk Islam atau memilih di bawah tanggungan pemerintah Islam.
g.
Menyertakan orang-orang terpercaya (amanah) dalam
pemerintahannya serta mengikuti nasihat orang-orang yang layak menasihati. Ini
dimaksudkan agar kecakapan dijadikan tolak ukur pemberian amanat dan harta
kekayaan dapat terlindungi.
h.
Menjalankan pengawasan social.
BAB III
PENUTUP
A. Kesimpulan
Pemimpin adalah
orang yang mendapat amanah serta memiliki sifat, sikap, dan gaya yang baik
untuk mengurus atau mengatur orang lain. Kepemimpinan adalah kemampuan
seseorang mempengaruhi dan memotivasi orang lain untuk melakukan sesuatu sesuai
tujuan bersama.
Menyatakan bahwa
dalam menjadi pemimpin di muka bumi maka manusia harus bisa menjalankan apa
yang telah diamanatkan oleh Allah dan di setiap langkah sebagai seorang
pemimpin, Allah akan memberikan peringatan bagi kaum Muslimin agar selalu
berhati-hati tentang apa yang akan dilakukan sebagai khalifah Allah di bumi.
B. Saran
Dalam makalah
singkat ini penulis ingin menyarankan kepada rekan mahasiswa hendaknya kita
membuat tugas yang dibebankan oleh dosen pengasuh kita yang berupa makalah
khususnya mata kuliah pendidikan agama islam, kita membuat sendiri agar
kedepannya kita menjadi mahasiswa yang benar-benar siap pakai di kalangan
masyarakat maupun dunian kerja.
DAFTAR PUSTAKA
efektif.html/3 Juni 2015
Tidak ada komentar:
Posting Komentar