Tugas akhir mata kuliah
Dosen :A.Muh.YusriTeja,S.pd, Mpd
MAKALAH
LEADERSHIP (KEPEMIMPINAN)
KARAKTERISTIK
KEPEMIMPINAN DALAM ISLAM

Disusun
Oleh : HAMRIAH
NiM :
1331036
SEMESTER : IV
JURUSAN : TARBIYAH
SEKOLAH TINGGI
AGAMA ISLAM DARUD
DAKWAH WAL-IRSYAD
(STAI DDI
MAROS )
2015
KATA PENGANTAR
Puji syukurkita panjatkan
ke hadirat Tuhan Yang Maha Esa, karena dengankaruniaNya kami dapat
menyelesaikan Makalah “Karakteristik Kepemimpinan
dalam Islam”. Tujuan penulisan makalah ini adalah untuk menambah pengetahuan
kepada pembaca di bidang karakter kepemimpinan
dalam Islam,
khususnya dalam peran manusia sebagai khalifah di muka bumi. Di samping itu,
makalah ini diajukan guna memenuhi tugas mata kuliah Leadership(kepemimpinan). Manusia yang sadarakan keberadaan
dirinya, tidak takut untuk mengubah kehidupannya untuk menjadi lebih baik, dan
tidak berhenti untuk terus menimba ilmu dalam kehidupan guna keluar dari kebodohan
imannya dan menuju peningkatan nilai dan kecerdasan takwa dirinya kepada Sang Maha Pencipta.
Kami
menyadari bahwa masih banyak kekurangan pada penulisan ini. Dengan segala
kerendahan hati penulis mengharap kritik dan saran.
Tak ada gading yang tak retak, kesempurnaan hanyalah milik Allah SWT
semata.Semoga makalah ini menjadi pelita bagi individu yang ingin mengembangkan
kepribadiandirinya. Amin.
Maros, 01
juni 2015
DAFTAR ISI
Kata Pengantar……………………………………………………………... i
Daftar Isi…………………………………………………………………… ii
BAB I PENDAHULUAN………………………………………………….. 1
1.1.Latar
Belakang..……………………………………………………........
1
1.2.Rumusan masalah……………………………………………………… 2
BAB II Pembahasan……………………….………………………………..
3
2.1. Kepemimpinan,………………………………………………………...
3
2.2. Ciri-Ciri Pemimpin Menurut Islam….……..………………………….
4
2.3. Syarat-syarat Pemimpin Dalam Islam………………………………...
7
2.4. Pokok-Pokok Kepemimpinan Islam….………………………………
13
BAB III KARAKTERISTIK KEPEMIMPINAN DALAM ISLAM..…... 15
3.1.
Kepemimpinan Dalam Islam…..……………………………………..
15
3.2.Karakteristik kepemimpinan secara
umum...………………………… 19
3.3.Sebab-sebab utama keberhasilan
pemimpin..………………………….20
3.4.Sebab-sebab utama kegagalan
pemimpin..…………………………….21
BAB IV PENUTUP………………………………………………………
22
A. Kesimpulan…….……………………………………………………….22
B. Saran……………………………………………………………………22
DAFTAR PUSTAKA.……………………………………………………23
BAB I
PENDAHULUAN
1.1. LATAR BELAKANG
Manusia adalah makhluk sosial yang tidak dapat hidup sendiri. Dalam hidup,
manusia selalau berinteraksi dengan sesama serta dengan lingkungan. Manusia
hidup berkelompok baik dalam kelompok besar maupun dalam kelompok kecil. Hidup
dalam kelompok tentulah tidak mudah. Untuk menciptakan kondisi kehidupan yang
harmonis anggota kelompok haruslah saling menghormati dan menghargai.
Keteraturan hidup perlu selalu dijaga. Hidup yang teratur adalah impian setiap
insan. Menciptakan dan menjaga kehidupan yang harmonis adalah tugasmanusia.kepemimpinan(leadership) islam berarti bagaimana ajaran islam memberi sibghah
dan wijwah,corak dan arah kepada pemimpin itu,dandengan kepemimpinannya mampu merubah
pandangan atau sikap mental yang selama ini
hinggap,menghambat dan mengidap pada sekolompok masyarakat maupun perorangan.
Tidak hanya lingkungan yang perlu dikelola dengan baik, kehidupan sosial
manusiapun perlu dikelola dengan baik. Untuk itulah dibutuhkan sumber daya
manusia yang berkualitas. Sumber daya yang berjiwa pemimpin, paling tidak untuk
memimpin dirinya sendiri.
Dengan berjiwa pemimpin, manusia akan dapat mengelola diri, kelompok dan
lingkungan dengan baik. Khususnya dalam penanggulangan masalah yang relative
pelik dan sulit. Di sinilah dituntut kearifan seorang pemimpin dalam mengambil
keputusan agar masalah dapat terselesaikan dengan baik.
Kiranya pertanyaan-pertanyaan semacam
di atas akan sedikit terjawab dalam makalah ini,karena metode penyusunannya
cenderung memakai cara SPS (Scientific
Problem solving),sehingga antara masalah dan metode pemecahannya ada relevansinya.
1.2.RUMUSAN MASALAH
1.Pengertian kepemimpinan
2.Apa saja Ciri-ciri kepemimpinan dalam islam?
3.bagaimana
karakteristik kepemimpinan dalam islam?
BAB II
2.1.
KEPEMIMPINAN
A. HAKIKAT
KEPEMIMPINAN
Kepemimpinan adalah kemampuan seseorang mempengaruhi dan memotivasi orang
lain untuk melakukan sesuatu sesuai tujuan bersama. Kepemimpinan meliputi
proses mempengaruhi dalam menentukan tujuan organisasi, memotivasi perilaku
pengikut untuk mencapai tujuan, mempengaruhi untuk memperbaiki kelompok dan
budayanya. Sedangkan kekuasaan adalah kemampuan untuk mempengaruhi orang lain
untuk mau melakukan apa yang diinginkan pihak lainnya. Kepemimpinan adalah seni
untuk mempengaruhi dan menggerakkan orang – orang sedemikian rupa untuk
memperoleh kepatuhan, kepercayaan, respek, dan kerjasama secara royal untuk
menyelesaikan tugas – Field Manual (22-100).
Kekuasaan adalah kemampuan untuk mempengaruhi orang lain untuk mau
melakukan apa yang diinginkan pihak lainnya. Ketiga kata yaitu pemimpin,
kepemimpinan serta kekuasaan yang dijelaskan sebelumnya tersebut memiliki
keterikatan yang tak dapat dipisahkan. Karena untuk menjadi pemimpin bukan
hanya berdasarkan suka satu sama lainnya, tetapi banyak faktor. Pemimpin yang
berhasil hendaknya memiliki beberapa kriteria yang tergantung pada sudut
pandang atau pendekatan yang digunakan, apakah itu kepribadiannya,
keterampilan, bakat, sifat – sifatnya, atau kewenangannya yang dimiliki yang mana
nantinya sangat berpengaruh terhadap teori maupun gaya kepemimpinan yang akan
diterapkan.
B. KRITERIA
PEMIMPIN
Adapun
kriteria pemimpin itu sendiri, yakni:
a. Pemimpin
yang mukmin.
b. Tegas
dalam menjalankan perintah Tuhan.
c. Takut
kepada Allah swt sewaktu mengurusi orang-orang yang dipimpinnya.
d. Tidak
menzalimi siapapun.
e. Tidak
memerkosa hak-hak orang lain.
f. Menegakkan
dan bukan melecehkan hudud Allah swt.
g.
Membahagiakan rakyatnya dengan mengharap rida Allah swt.
h. Orang
kuat di sisinya menjadi lemah sehingga si lemah dapat mengambil kembali haknya
yang direbut
si kuat.
i. Orang
lemah di sisinya menjadi kuat sehingga haknya dapat terlindungi.
j.
Menampakkan kepatuhan kepada Allah swt dalam menetapkan kebijakan yang
berhubungan
dengan hajat hidup orang banyak sehingga dirinya dan orang-orang yang
dipimpinnya merasa bahagia.
k. Semua
orang hidup aman dan tenteram.
l. Sangat
mencintai manusia, begitu pula sebaliknya.
m. Selalu
mendoakan manusia, begitu pula sebaliknya. Kriteria di atas menjadi indikator
bagi pemimpin yang terbaik dan termulia di sisi Allah swt dan manusia.
2.2. CIRI-CIRI PEMIMPIN MENURUT
ISLAM
Adapun ciri-ciri pemimpin menurut islam adalah sebagai
berikut :
1. NIAT YANG
TULUS
Apabila
menerima suatu tanggung jawab, hendaklah didahului dengan niat sesuai dengan
apa yang telah Allah perintahkan. Iringi hal itu dgn mengharapkan keredhaan-Nya
sahaja. Kepemimpinan atau jabatan adalah tanggung jawab dan beban, bukan
kesempatan dan kemuliaan.
2. LAKI-LAKI
Wanita
sebaiknya tidak memegang tampuk kepemimpinan. Rasulullah Shalallahu’alaihi wa
sallam bersabda,”Tidak akan beruntung kaum yang dipimpim oleh seorang wanita
(Riwayat Bukhari dari Abu Bakarah Radhiyallahu’anhu).
3. TIDAK
MEMINTA JABATAN
Rasullullah
bersabda kepada Abdurrahman bin Samurah Radhiyallahu’anhu,”Wahai Abdul Rahman
bin samurah! Janganlah kamu meminta untuk menjadi pemimpin. Sesungguhnya jika
kepemimpinan diberikan kepada kamu karena permintaan, maka kamu akan memikul
tanggung jawab sendirian, dan jika kepemimpinan itu diberikan kepada kamu bukan
karena permintaan, maka kamu akan dibantu untuk menanggungnya.” (Riwayat
Bukhari dan Muslim).
4. BERPEGANG
DAN KONSISTEN PADA HUKUM ALLAH
Ini salah satu kewajiban utama seorang pemimpin.Allah berfirman,”Dan
hendaklah kamu memutuskan perkara diantara mereka menurut apa yang diturunkan
Allah, dan jaganlah kamu mengikuti hawa nafsumereka.”(al-Maaidah:49).Jika ia
meninggalkan hukum Allah, maka seharusnya dilucutkan dari jabatannya.
5.
MEMUTUSKAN PERKARA DENGAN ADIL
Rasulullah
bersabda,”Tidaklah seorang pemimpin mempunyai perkara kecuali ia akan datang
dengannya pada hari kiamat dengan keadaan terikat, entah ia akan diselamatkan
oleh keadilan, atau akan dijerusmuskan oleh kezalimannya.” (Riwayat Baihaqi
dari Abu Hurairah dalam kitab Al-Kabir).
6.
SENANTIASA ADA KETIKA DIPERLUKAN RAKYAT
Hendaklah
selalu membuka pintu utk setiap pengaduan dan permasalahan rakyat. Rasulullah
bersabda,”Tidaklah seorg pemimpin atau pemerintah yg menutup pintunya terhadap
keperluan, hajat, dan kemiskinan kecuali Allah akan menutup pintu-pintu langit
terhadap keperluan, hajat, dan kemiskinannya.” (Riwayat Imam Ahmad dan At-Tirmidzi).
7.
MENASIHATI RAKYAT
Rasulullah
bersabda,”Tidaklah seorg pemimpin yg memegang urusan kaum Muslimin lalu ia
tidak bersungguh-sungguh dan tidak menasihati mereka, kecuali pemimpin itu
tidak akan masuk syurga bersama mrk (rakyatnya).”
8. TIDAK
MENERIMA HADIAH
Seorang
rakyat yg memberikan hadiah kepada seorang pemimpin pasti mempunyai maksud
tersembunyi, entah ingin mendekati atau mengambil hati. Oleh kerena itu,
hendaklah seorang pemimpin menolak pemberian hadiah dari rakyatnya. Rasulullah
bersabda,” Pemberian hadiah kepada pemimpin adalah pengkhianatan.” (Riwayat
Thabrani).
9. MENCARI
PEMIMPIN YANG BAIK
Rasulullah
bersabda,”Tidaklah Allah mengutus seorang nabi atau menjadikan seorang khalifah
kecuali ada bersama mereka itu golongan pembantu, yaitu pembantu yang menyuruh
kepada kebaikan dan mendorongnya kesana, dan pembantu yang menyuruh kpd
kemungkaran dan mendorongnya ke sana. Maka org yg terjaga adalah orang yang
dijaga oleh Allah,” (Riwayat Bukhari dari Abu said Radhiyallahu’anhu).
10. LEMAH
LEMBUT
Doa
Rasullullah,’ Ya Allah, barangsiapa mengurus satu perkara umatku lalu ia
mempersulitnya, maka persulitlah ia, dan barang siapa yg mengurus satu perkara
umatku lalu ia berlemah lembut kepada mereka, maka berlemah lembutlah
kepadanya.
2.3. SYARAT-SYARAT PEMIMPIN DALAM
ISLAM
Kepemimpinan
setelah Rasulullah SAW ini, merupakan pemimpin yang memiliki kualitas spiritual
yang sama dengan Rasul, terbebas dari segala bentuk dosa, memiliki pengetahuan
yang sesuai dengan realitas, tidak terjebak dan menjauhi kenikmatan dunia,
serta harus memiliki sifat adil. Pemimpin setelah Rasul harus memiliki kualitas
spiritual yang sama dengan Rasul. Karena pemimpin merupakan patokan atau
rujukan umat Islam dalam beribadah setelah Rasul. Oleh sebab itu ia haruslah
mengetahui cita rasa spritual yang sesuai dengan realitasnya, agar ketika
menyampaikan sesuatu pesan maka ia paham betul akan makna yang sesungguhnya
dari realitas (cakupan) spiritual tersebut. Ketika pemimpin memiliki kualitas
spiritual yang sama dengan rasul maka pastilah ia terbebas dari segala bentuk
dosa.
Dengan
demikian jelas bahwa setelah Rasulullah SAW wafat, maka ummat Islam sebenarnya
memiliki seorang pemimpin, yakni Imam Ali Bin Abi Thalib. Kemudian dilanjutkan
oleh beberapa keturunannya, yang mana akhir dari kepemimpinan tersebut adalah
Imam Mahdi, yang disebut sebagai Imam akhir zaman.
Akan tetapi
sekarang ini, Dimanakah Imam Mahdi tersebut? dan siapakah yang memimpin umat
Islam di zaman ini? Untuk menjawab pertanyaan ini, ada 4 dasar falsafi
kepemimpinan kelompok dalam Islam (syi’ah), yaitu:
Pertama, Allah
adalah hakim mutlak seluruh alam semesta dan segala isinya.. Allah adalah Malik
al-Nas, pemegang kedaulatan, pemilik kekuasaan, pemberi hukum. Manusia harus
dipimpin oleh kepemimpinan Ilahiyah. Sistem hidup yang bersumber pada sistem
ini disebut sistem Islam, sedangkan sistem yang tidak bersumber pada
kepemimpinan Ilahiyah disebut kepemimpinan Jahiliyah. Hanya ada dua pilihan
kepemimpinan Allah atau kepemimpinan Thagut.
Kedua, kepemimpinan manusia yang mewujudkan hakimiah Allah dibumi adalah Nubuwwah. Nabi tidak saja menyampaikan Al-qanun Al-Ilahi dalam bentuk kitabullah, tetapi juga pelaksana qanun itu sendiri. ”Seperangkat hukum saja tidak cukup untuk memperbaiki masyarakat. Supaya hukum dapat menjamin kebahagiaan dan kebaikan manusia, diperlukan pelaksana.” menurut Khomeini. Para Nabi diutus untuk menegakkan keadilan, menyelamatkan masyarakat manusia dari penindasan. Nabi telah menegakkan pemerintahan Islam dan Imamah keagamaan sekaligus.
Kedua, kepemimpinan manusia yang mewujudkan hakimiah Allah dibumi adalah Nubuwwah. Nabi tidak saja menyampaikan Al-qanun Al-Ilahi dalam bentuk kitabullah, tetapi juga pelaksana qanun itu sendiri. ”Seperangkat hukum saja tidak cukup untuk memperbaiki masyarakat. Supaya hukum dapat menjamin kebahagiaan dan kebaikan manusia, diperlukan pelaksana.” menurut Khomeini. Para Nabi diutus untuk menegakkan keadilan, menyelamatkan masyarakat manusia dari penindasan. Nabi telah menegakkan pemerintahan Islam dan Imamah keagamaan sekaligus.
Jalaluddin Rakhmat
dalam buku Yamani yang berjudul, filsafat Politik Islam, menyebutkan bahwa
secara terperinci seorang faqih harus memenuhi syarat-syarat sebagai berikut :
Faqahah, mencapai derajat mujtahid
mutlak yang sanggup melakukan istinbath hukum dari sumber-sumbernya.
’adalah :
memperlihatkan ketinggian kepribadian, dan bersih dari watak buruk. Hal ini
Ditunjukkan dengan sifat istiqamah,
alshalah, dan tadayyun.
Kafa’ah : memiliki
kemampuan untuk memimpin ummat, mengetahui ilmu yang berkaitan dengan
pengaturan masyarakat, cerdas, matang secara kejiwaan dan ruhani.
Dalam kitab
Al-Fiqh 'Ala Al-Madzahib Al-Arba'ah (5 : 461) menyimpulkan : "Mereka
sepakat bahwa imam disyaratkan harus Muslim, mukallaf, merdeka, laki-laki,
Quraisy, adil, alim, mujtahid, pemberani, memeliki wawasan yang benar, sehat
pendengaran, penglihatan, dan pembicaraan." Ibn Taimiyah, walaupun menolak
syarat-syarat klasik ini, karena dianggap tidak realistis, namun beliau
menegaskan bahwa keadilan beserta amanah adalah dua kualitas esensial
pemerintahan Islam (lihat Qamaruddin Khan, The Political Thoughts of Ibn
Taymiyah, Islamabad Islamic Research Institution, 1973). Setelah Rasulullah Saw
wafat, yang memegang kendali kepemimpinan politik Islam, bukan lagi tokoh ideal
seperti Nabi. Abu Bakar Ra –seperti dinyatakan oleh Umar Ra dalam kitab
Al-Hudud, Bab Rajm Al-Hubla, Shahih Bukhari—dipilih tergesa-gesa, tetapi Allah
Swt menyelamatkan umat dari kekurangannya. Bahkan Abu Bakar sendiri mengakui
bahwa ia bukanlah orang yang paling baik untuk menduduki jabatan khalifah.
Ketika diangkat menjadi khalifah, Abu Bakar Ra berkhutbah : "Sesungguhnya
dalam posisi ini aku bukanlah yang terbaik diantara kalian. Ketahuilah kadang-kadang
syaitan menguasai diriku. Bila aku baik bantulah aku. Bila aku salah
luruskanlah aku. Taati aku selama aku taat kepada Allah dan Rasul-Nya. Jika aku
maksiat kepada Allah dan Rasul-Nya, kalian tidak wajib menaatiku. Sehingga,
seperti dikatakan Maududi, Abu Bakar dan Umar berhasil menegakkan sistim
politik yang adil: pemerintahan berdasarkan musyawarah, amanah, kekuasaan
hukum, jiwa demokrasi, dan anti ashabiyah. Kualifikasi Pemimpin dalam Pemikiran
Islam Sebenarnya, apa sajakah kualifikasi pemimpin menurut para pemikir politik
Islam? Adalah Al-Farabi yang memiliki concern mengenai pewenang tertinggi dalam
pemerintahan ini. Beliau menyebutnya dengan al-ra'is al-awwal li al-madinah
al-fadhilah wa ra'is al-mamirah min al-ardh kulliha (Pemimpin Tertinggi Negara
Utama dan Pemimpin Oikumene Dunia). Di antara sifat-sifat pemimpin yang
disebutkan Al-Farabi ialah : "…bijak, berbadan kuat, bercita-cita tinggi,
baik daya pemahamannya, kuat daya hafalannya, sangat cerdas, fasih berbicara,
cinta kepada ilmu, sanggup menanggung beban dan kesulitan karenanya, tidak
rakus kepada kenikmatan jasmani, cinta kepada kejujuran, mulia jiwanya, adil
dan teladan bagi semua orang –hatta terhadap diri dan keluarganya—serta berani
dan paling awal." Al-Farabi juga menyebutkan : "Terhimpunnya semua
syarat dan sifat ini dalam diri seseorang adalah sesuatu yang jarang terjadi.
Kalau tidak, orang yang paling banyak memiliki sifat-sifat tersebutlah yang
dapat menjadi pemimpin. Apabila tidak ada seorang pun yang memenuhi sifat-sifat
tersebut secara maksimal, namun ada dua orang, yang satu bijak (hakim) dan
lainnya memiliki sifat-sifat yang lain, maka kedua-duanya menjadi pemimpin
bersama. Dan masing-masing orang saling melengkapi satu dengan lainnya. Apabila
sifat-sifat ini ada pada lebih dua orang, dan mereka saling mengerti, maka
semuanya adalah para pemimpin yang dihormati." Sementara itu, Syeikh
Al-Ra'is ibn Sina menyatakan dalam kitabnya, Al-Syifa', Bab "Penentuan
Khalifah dan Imam", sebagai berikut : "… Kemudian wajib bagi seorang
pemimpin untuk mewajibkan patuh kepada orang yang akan menggantikannya. Suksesi
ini tidak boleh terjadi melainkan dari sisinya, atau berdasarkan ijma' para
ahli senior atas seseorang yang secara publik dan aklamasi diakui sebagai orang
yang mandiri dalam politik, kuat secara intelektual, bermoral mulia –seperti
berani, terhormat, cakap mengelola, dan arif dalam hukum syariat—sehingga tiada
orang yang lebih dikenal darinya." "Ditetapkan kepada mereka bahwa
apabila terjadi perselisihan atau pertikaian lantaran dorongan hawa nafsu, atau
mereka sepakat (menetapkan) orang yang tidak memiliki keutamaan-keutamaan ini,
dan yang tidak layak, maka mereka akan kafir kepada Allah Swt." Al-Qadhi
Abu Ya'la Al-Gharra' dalam kitab Al-Ahkam Al-Sulthaniyah, menyatakan : "Orang
yang layak menjadi pemimpin harus memenuhi empat syarat, yaitu :
1) berasal
dari keturunan Quraisy;
2) memenuhi
sejumlah syarat, seperti layaknya seorang hakim (qadhi), merdeka, akil, balig,
berilmu, dan adil;
3) arif
dalam urusan peperangan, politik, dan pelaksanaan hukum-hukum hudud sehingga
rasa belas kasihannya tidak menghalanginya dari berbuat adil, serta memiliki
sifat membela umatnya; dan
4) yang
paling utama dalam ilmu dan agama di antara mereka.
" Al-Mawardi, teoritisi utama
politik Islam Sunni memerinci dalam kitab Al-Ahkam Al-Sulthaniyyah, bahwa :
"Orang yang layak menyandang kepemimpinan, harus memenuhi tujuh syarat,
yaitu :
1) adil
dengan keseluruhan persyaratannya;
2) berilmu
pengetahuan sehingga mampu berijtihad dalam kasus-kasus yang dihadapi dan
ketetapan-ketetapan hukum;
3) memiliki
kesempurnaan indra seperti pendengaran, penglihatan, dan pembicaraan agar
dengannya ia bisa melaksanakan tugasnya sendiri;
4) tak
memiliki cacat tubuh yang bisa menghalangi dinamika kerja dan tindakan segera;
5) memiliki
kemampuan menggagas yang dapat melahirkan strategi kepemimpinan rakyat dan
pengaturan kemaslahatan;
6) berani
dan tangguh sehingga mampu mempertahankan Negara dan melawan musuh; dan
7) nasab
sang pemimpin hendaklah dari keturunan Quraisy, dan mendapatkan kesepakatan
(konsensus).
2.4. POKOK-POKOK KEPEMIMPINAN ISLAM
Yamani dalam
bukunya Filsafat Politik Islam (2002 : 15-16), mengemukakan pokok-pokok
kepemimpinan dalam Islam didasarkan atas empat dasar falsafi (philosophische
grondslagen), antara lain : Pertama, Allah adalah hakim mutlak seluruh alam
semesta dan segala isinya. Allah adalah malik an-nas, pemegang kedaulatan,
pemilik kekuasaan, pemberi hukum. Manusia harus dipimpin dengan kepemimpinan
Ilahiyah. Kedua, Kepemimpinan manusia (qiyadah abasyariyyah) yang mewujudkan
hakimiyah Allah di bumi ini ialah nubuwwah. Nabi tidak hanya menyampaikan
al-qanun al-ilahi dalam bentuk Kitabullah, tetapi juga pelaksana qanun itu.
Supaya hukum sanggup menjamin kebahagiaan dan kebaikan manusia, diperlukan
adanya kekuatan eksekutif atau pelaksana.' Ketiga, garis imamah melanjutkan garis
nubuwwah dalam memimpin umat. Setelah zaman para nabi berakhir dengan wafatnya
Rasulullah Saw., kepemimpinan umat dilanjutkan oleh para imam yang diwariskan
oleh Rasulullah dan ahl-al-bait-nya. Setelah zaman para nabi, dating zaman
'para imam.' Keempat, para faqih adalah khalifah para imam dan kepemimpinan
umat dibebankan kepada mereka.
BAB III
KARAKTERISTIK KEPEMIMPINAN DALAM ISLAM
3.1. KEPEMIMPINAN DALAM ISLAM
Dalam ajaran agam Islam, hadits nabi
menyebutkan bahwa setiap manusia adalah seorang pemimpin, apakah ia sebagai
kepala keluarga, sebagai imam suatu umat, seorang wanita yang kedudukannya
sebagai ibu rumah tangga dan bahkan seorang pembantu sekalipun ia adalah
seorang pemimpin.
Hal ini didasarkan pada hadits Nabi
yang berbunyi :Artinya : Abu Nu’man menceritakan hadits kepada kami, Hammad
ibnu Zaid menceritakan hadits kepada kami dari Ayyub, dari Nafi’, dari Abdillah
berkata: Rasulullah SAW. Bersabda “setiap kamu adalah pemimpin dan setiap kamu
akan dimintai pertanggungjawaban.
Oleh karena itu seorang imam adalah
pemimpin dan dia akan dimintai pertanggungjawaban, dan seorang laki-laki adalah
seorang pemimpin atas keluarganya, dan setiap kamu akan dimintai pertanggungjawaban.
Dan seorang wanita (istri) adalah pemimpin atas rumah suaminya dan setiap kamu
akan dimintai pertanggungjawaban. Dan seorang hamba (pembantu) adalah pemimpin
atas harta tuannya dan setiap kamu akan dimintai pertanggungjawaban.
Maka ingatlah bahwa setiap kamu
adalah pemimpin dan akan dimintai
pertanggungjawaban atas
kepemimpinannya” . Kecuali sebagai Nabi, Muhammad SAW. adalah pemimpin yang
tangguh dan paling efektif. Segala macam kualitas yang dibutuhkan untuk tampil
sebagai figur kepemimpinan berhimpun pada pribadi Muhammad SAW.. Kita dapat
mencatat umpamanya beberapa hal persyaratan yang telah dimiliki beliau.
:
Beliau adalah pribadi yang mempunyai
sifat-sifat terpuji, diantaranya adalah siddiq54. Selaku pimpinan beliau
memiliki kesabaran yang tinggi ketika diuji dengan harta, dengan kedudukan dan
dengan wanita. Beliau tangguh dan tidak tergoyahkan. Meski beliau memiliki
pengetahuan, kecerdasan dan wawasan pandangan yang luas, namun beliau tidak
meninggalkan musyawarah dan diskusi dengan para sahabatnya dalam memutuskan
suatu perkara yang rumit. Bahkan lebih dari itu, terkadang ide orang lain
bahkan ide musuh-musunya kalau dianggap baik beliau mengambilnya.
Hal ini dilakukan dengan prinsip
nisfu aqlika fi ‘aduwwika yang artinya sebagian dari ide anda dapat diperoleh
dari taktik atau gagasan musuh-musuhmu. Konsep kepemimpinan (leadership) dalam
pandangan agama Islam berdasarkan firman Allah SWT. surat Al Baqoroh ayat 30
yang berbunyi :Artinya : Ingatlah ketika Tuhanmu kepada para Malaikat
:”Sesungguhnya Aku hendak menjadikan khalifah di muka bumi" (QS. Al
Baqoroh, 30) Kandungan ayat tersebut menjelaskan nikmat-nikmat Allah SWT. yang
dengan nikmat tersebut menjauhan dari maksiat dan kufur serta dapat memotivasi
seseorang untuk beriman kepada Allah SWT.. Sebagian mufassirin berpendapat yang
dimaksud dengan khalifah disini adalah sebagai pengganti Allah Allah SWT.
Berbicara tentang kepemimpinan dalam
pandangan agama Islam, maka kita akan merujuk terhadap pribadi dan pola
kepemimpinan yang ditampilkan oleh Nabi Muhammad SAW. yang lebih dikenal dengan
istilah uswatun khasanah yang artinya teladan yang mulia atau baik. Keteladanan
nabi muhammad SAW. ini telah dijamin oleh Allah SWT. dengan firman Nya dalam Al
Qur’an yang berbunyi :Artinya : Sesungguhnya telah ada pada (diri) Rasulullah
itu suri taulada yang baik bagimu, yaitu bagi orang yang mengharap (rahmat)
Allah dan (kedatangan) hari qiamat dan dia banyak menyebut Allah.
Sesungguhnya banyak hal yang bisa
dijabarkan dari sifat Rasulullah SAW namun semoga 4 sifat teladan ini sungguh
menjelaskan betapa sifat kepempimpinan beliau mengakar kepada kita walau beliau
telah wafat beberapa abad yang lalu, sifat kepemimpinan beliau disegani kawan
dan dihormati lawan sekalipun.
1. Shiddiq (Jujur). Ini adalah sifat kejujuran
yang sangat ditekankan Rasul baik kepada dirinya maupun pada para
sahabat-sahabatnya (Semoga kita juga meneladaninya).Adalah ciri seorang muslim
untuk jujur. Sehingga Islam bukan saja menjadi sebuah agama namun juga
peradaban besar.
2.Amanah(bisa dipercaya). Sifat ini ditanamkan
khususnya kepada para sahabat yang ditugaskan di semua hal apa saja untuk bisa
berbuat amanah, tidak curang (atau juga korupsi di zaman sekarang) dalam hal
apa saja3. Tabligh (Menyampaikan yang benar). Ini adalah sebuah sifat
Rasul untuk tidak menyembunyikan informasi yang benar apalagi untuk kepentingan
umat dan agama..
4. Fathonah (Cerdas).Sifat Pemimpin adalah cerdas dan mengetahui dengan jelas apa akar permasalahan yang dia hadapi serta tindakan apa yang harus dia ambil untuk mengatasi permasalahan yang terjadi pada umat
4. Fathonah (Cerdas).Sifat Pemimpin adalah cerdas dan mengetahui dengan jelas apa akar permasalahan yang dia hadapi serta tindakan apa yang harus dia ambil untuk mengatasi permasalahan yang terjadi pada umat
3.2., karakteristikke pemimpinan
secaraumum berkewajiban menjalankan hal-hal sebagai berikut:
a. Menjaga
agama agar tetap pada porosnya yang abadi. Seandainya muncul seorang mubtadi’
(yang mengada-ada dalam urusan agama), ia (pemimpin) harus menjelaskan
kebenaran kepadanya, memberinya landasan dan menjalankan hak serta hudud agar
agama tetap terlindungi dari kerancuan sekaligus mencegah umat dari
ketergelinciran (ke jurang kesesatan).
b.
Melaksanakan hukum dan memutuskan perkara pihak-pihak yang bertikai sehingga
keadilan menjadi tegak, orang zalim tidak dapat berbuat seenaknya, dan orang
yang dizalimi tidak merasa lemah.
c. Menjaga
Islam dan menjamin keamanan agar orang-orang dapat saling berhubungan dan hidup
dalam kondisi nyaman yang berhubungan dengan jiwa dan harta benda.
d. Cakapakanmasalah yang di tanganinya.
e. Melindungi
kaum muslimin dengan benteng yang kokoh serta kekuatan yang mampu menangkal
setiap serangan musuh-musuh yang sangat berpotensi menghancurkan atau
menumpahkan darah kaum muslimin atau orang-orang nonmuslim yang berada di bawah
perlindungan pemerintahan Islam.
f.
Melancarkan jihad terhadap orang yang telah diberi keterangan tentang ajaran
Islam namun kemudian melakukan penentangan-sampai dirinya memeluk Islam atau
memilih di bawah tanggungan pemerintah Islam.
g.
Menyertakan orang-orang terpercaya (amanah) dalam pemerintahannya serta
mengikuti nasihat orang-orang yang layak menasihati. Ini dimaksudkan agar
kecakapan dijadikan tolak ukur pemberian amanat dan harta kekayaan dapat
terlindungi.
h.
Menjalankan pengawasan social.
3.3.SEBAB-SEBAB UTAMA KEBERHASILAN PEMIMPIN
Pemimpin sebagai pengemban amanah,dalam islam akan Nampak pada shalat.Imam harus
berdiri di depan,sedangkan makmum harus berderet di belakang teratur dan rapi,keakhlian
dalam bidang pekerjaan yang di pimpinnya amatlah perlu bagaimana kita dapat memberi
pimpinan dan bimbingan kalau kita sendiri tak ada kemampuan untuk melaksanakannya.
Berikut ini adalah beberapa sebab keberhasilan pemimpin:
a.Berpengetahuan;
ia memang memiliki kemampuan dalam bidang yang di pimpinnya.ia tahu benarakan
seluk beluk bidang kegiatannya,baik dari dalam maupun dari luar.
b. keberanian
keberanianadalahkemampuanbatin yang
mengakuiadanya rasa takut,akan tetapi mampu untuk menghadapi bahaya atau
rintangan dengan tenang dan tegas,atau dapat di katakan bahwa keberanian adalah
kemampuan berfikir yang memungkinkan seseorang dapat menguasai tingkah lakunya dan
dapat menerima tanggung jawab.
c. Dapatmenguasaidirisendiri
Bila nafsu di perturutkan,maka segala persoalan takkan ter selesaikan,buah karya
selama hidup tak menghasilkan.seorang yang dapat menguasai diri sendiri,berarti
bila ia memilik I rencana,maka tegas pula terhadap rencana yaitu. Ia tanpa mengulur-ulur
waktu atau mencari alasan,programnya langsung di jalankan.
d.Bijaksana
Bijaksana adalah kecakapan untuk bergaul
dengan bawahan maupun dengan atasannya dengan cara yang tepatdan tidak menyinggung
perasaan.
3.4.SEBAB-SEBAB UTAMA
KEGAGALAN PEMIMPIN
Mengetahui kelemahan sama pentingnya dengan memikirkan apa yang harus kita perbuat.Barangkali
kelemahan itu terletak pada diri kita,akan tetapi kita tidak mengetahuinya.
Barangkali kelemahan-kelemahan semacam di bawah ini hinggap pada diri kita
:
a.Terlalu menekangkan kewibawaan.
Harapan mendapatkan kewibawaan yang
di lakukan dalam bentuk kekerasan atau ancamaan akan melahirkan ketakutan,sedangkan
kewibawaan yang di tegakkan atas dasar kelakuan
akan melahirkan kepatuhan.
b. Kurang memiliki daya imajinasi.
Imajinasi atau daya khayal pada hakekatnya adalah satu wadah tempat manusia
gunamenempa segala bentuk rencananya.Dorongan dan hasrat itu memberi bentuk dan menjelma menjadi tindakan
berkat bantuan daya khayal pikiran seseorang.
.
BAB.IV
PENUTUP
A. KESIMPULAN
Pemimpin adalah orang yang mendapat amanah serta memiliki sifat, sikap, dan
gaya yang baik untuk mengurus atau mengatur orang lain. Kepemimpinan adalah
kemampuan seseorang mempengaruhi dan memotivasi orang lain untuk melakukan
sesuatu sesuai tujuan bersama.
menyatakan bahwa dalam menjadi pemimpin di muka bumi maka manusia harus
bisa menjalankan apa yang telah diamanatkan oleh Allah dan di setiap langkah
sebagai seorang pemimpin, Allah akan memberikan peringatan bagi kaum Muslimin
agar selalu berhati-hati tentang apa yang akan dilakukan sebagai khalifah Allah
di bumi.
B. SARAN
Dalam
makalah singkat ini penulis ingin menyarankan kepada rekan mahasiswa hendaknya
kita membuat tugas yang dibebankan oleh dosen pengasuh kita yang berupa makalah
khususnya mata kuliah leadership(kepemimpinan), kita
membuat sendiri agar kedepannya kita menjadi mahasiswa yang benar-benar siap
pakai di kalangan masyarakat maupun dunia kerja.
DAFTAR PUSTAKA
ImamMunawwir.Ek.Asas-asaskepemimpinandalamIslam,penerbitusahanasional
Surabaya Indonesia. 1966.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar