PEMASARAN DAN
UPAYA MEMENGARUHI HARAPAN STAKEHOLDER
MAKALAH
(MANAJEMEN PENDIDIKAN)
Disusun Oleh:
SITI BADARIAH
NIM: 143507
SEKOLAH TINGGI AGAMA ISLAM (STAI) DDI MAROS
TAHUN 2014
BAB
I
PENDAHULUAN
A.
LATAR
BELAKANG
Pemasaran
dan upaya mempengaruhi harapan stakeholder adalah dua hal yang sangat penting
dalam dunia manajemen pendidikan. Pemasaran pendidikan dimana pengelolaannya
tidak dapat dilakukan secara tradisional akan tetapi membutuhkan kemampuan
khusus sehingga output pendidikan sesuai dengan kebutuhan pasar (stakeholder)
baik nasional maupun internasional.
Fokus
dari manajemen pendidikan mengalami perubahan dari sekedar melayani proses
pendidikan menjadi bagaimana membuat pemakai pendidikan diubah menjadi
pelanggan pendidikan (customer pendidikan), dimana pelanggan pendidikan
akan memberikan loyalitas yang tinggi untuk tidak bisa berpaling pada lembaga
lain.
Perubahan-perubahan
dalam aspek manajemen tersebut, harus dapat menciptakan: (1) Makes regular
repeat purchases yaitu pelanggan yang selalu membeli atau memakai secara
teratur program yang diluncurkan oleh lembaga, misalnya mahasiswa menyelesaikan
studi sampai akhir tetap pada jurusan yang sama; (2) Purchases across
product and service lines, pelanggan membeli diluar lini produk/ jasa,
misalnya ketika suatu universitas mengeluarkan program lain yaitu pelatihan
Bahasa Inggris maka banyak mahasiswa jurusan lain yang mengikuti pelatihan
tersebut; (3) Refers other yaitu merekomendasikan produk lain, misalnya
mahasiswa sebuah universitas merekomendasikan kepada keluarga, teman ataupun
masyarakat setiap program layanan pendidikan baik merekomendasikan jurusan yang
diambil maupun layanan lainnya (training, seminar, loka karya dan sebagainya);
(4) Demonstrates an immunity to the full of the competition yaitu
menunjukkan kekebalan dari daya tarik produk sejenis dari pesaing,
misalnya lagi banyak lembaga lain yang menawarkan pendidikan serupa yaitu untuk
calon guru, akan tetapi sebanyak dan semenarik apapun yang dilakukan oleh
lembaga lain, mahasiswa pada universitas yang disebutkan pertama di atas tetap
teguh memilihnya sebagai lembaga layanan pendidikannya. Customer seperti
di atas yang akan dicari oleh setiap lembaga pendidikan, hal itu bisa dilakukan
melalui strategi pemasaran pendidikan. (Irianto, 2014:201)
B.
RUMUSAN
MASALAH
Berdasarkan
latar belakang di atas, maka dalam makalah ini penyusun mengangkat rumusan
masalah:
1. Apakah
pemasaran dan stakeholder itu?
2. Upaya
pemasaran (pendidikan) yang bagaimanakah yang dapat memengaruhi harapan stakeholder?
BAB
II
PEMBAHASAN
A.
PEMASARAN
DAN STAKEHOLDER PENDIDIKAN
1.
Pemasaran
Pendidikan
Pada
bab pendahuluan telah dikemukakan bahwa dalam memajukan suatu bidang usaha
diperlukan upaya pemasaran yang baik. Tak terkecuali pemasaran di bidang
pendidikan. Dikatakan bahwa pemasaran pendidikan dimana pengelolaannya tidak
dapat dilakukan secara tradisional akan tetapi membutuhkan kemampuan khusus
sehingga output pendidikan sesuai dengan kebutuhan pasar/ stakeholder baik pada
skala nasional maupun internasional.
Untuk
lebih memahami bagian ini, maka kita terlebih dahulu sebaiknya mengetahui
pengertian pemasaran, khususnya pemasaran pada bidang pendidikan. Secara umum,
pemasaran atau marketing berarti
berbagai macam cara yang dilakukan oleh perusahaan dalam menjual
produk-produknya. Usaha dapat berupa promosi produk kepada konsumen agar
konsumen tertarik untuk membeli dan memiliki produk tersebut. Akan tetapi
pengertian pemasaran dapat berkembang lebih luas lagi sesuai dengan bidang
usaha tertentu.
Berikut
pengertian pemasaran menurut para ahli:
a.
William
J. Stanton, pemasaran adalah sistem keseluruhan dari
kegiatan-kegiatan bisnis yang ditujukan untuk merencanakan, menentukan harga,
mempromosikan, dan mendistribusikan barang dan jasa. Barang dan jasa yang
sifatnya memuaskan baik kepada pembeli yang ada maupun pembeli potensial.
b.
Philip
dan Duncan, pemasaran adalah sesuatu yang
meliputi semua langkah yang dipakai dan dibutuhkan untuk menempatkan barang ke
tangan konsumen.
c.
Sutisna,
pemasaran
adalah usaha untuk menyampaikan pesan kepada publik terutama konsumen mengenai keberadaan
produk (barang/ jasa) di pasar. (Admin, 2014)
Berdasarkan pengertian di atas, maka dapat ditarik
sebuah kesimpulan bahwa pemasaran pendidikan adalah segala bentuk upaya untuk
menginformasikan atau mengenalkan produk layanan pendidikan yang berkualitas kepada
seluruh konsumen pendidikan.
2.
Stakeholder
Pendidikan
Istilah
stakeholder sudah sangat populer. Kata ini telah dipakai oleh banyak
pihak dan hubungannnya dengan berbagai ilmu atau konteks, misalnya
manajemen bisnis, ilmu komunikasi, pengelolaan sumberdaya alam,
sosiologi,
dan
lain-lain. Lembaga-lembaga publik telah menggunakan secara luas istilah
stakeholder ini ke dalam proses-proses pengambilan dan implementasi
keputusan. Secara sederhana, stakeholder sering dinyatakan sebagai
para pihak, lintas pelaku, atau pihak-pihak yang terkait dengan
suatu issu atau suatu rencana.
Dalam
buku Cultivating Peace, Ramizes mengidentifikasi berbagai pendapat
mengenai stakeholder ini. Beberapa defenisi yang penting dikemukakan:
a. Freeman (1984), yang mendefenisikan
stakeholder sebagai kelompok atau individu yang dapat mempengaruhi dan atau
dipengaruhi oleh suatu pencapaian tujuan tertentu.
b. Biset (1998), secara singkat
mendefenisikan stakeholder merupakan orang dengan suatu kepentingan atau
perhatian pada permasalahan.
c. Grimble and Wellard (1996), stakeholder adalah kelompok
atau individu yang memilki posisi dan pengaruh penting. (Juanda, 2014)
Pandangan-pandangan
di atas menunjukkan bahwa pengenalan stakeholder tidak sekedar menjawab
pertanyaan siapa stakeholder suatu issu tapi juga sifat hubungan stakeholder
dengan issu, sikap, pandangan, dan pengaruh stakeholder itu.
Aspek-aspek ini sangat penting dianalisis untuk mengenal stakeholder.
Stakeholder
adalah kelompok atau individu yang dukungannya diperlukan demi kesejahteraan
dan kelangsungan hidup organisasi. Clarkson membagi stakeholder menjadi dua:
stakeholder primer dan stakeholder sekunder. Stakeholder primer adalah ‘pihak
di mana tanpa partisipasinya yang berkelanjutan organisasi tidak dapat bertahan.’
Contohnya adalah pemegang saham, investor, pekerja, pelanggan, dan pemasok.
Menurut Clarkson dalam Juanda (2014), suatu perusahaan atau organisasi dapat
didefinisikan sebagai suatu sistem stakeholder primer yang merupakan rangkaian
kompleks hubungan antara kelompok-kelompok kepentingan yang mempunyai hak,
tujuan, harapan, dan tanggung jawab yang berbeda. Stakeholder sekunder
didefinisikan sebagai ‘pihak yang mempengaruhi atau dipengaruhi oleh
perusahaan, tapi mereka tidak terlibat dalam transaksi dengan perusahaan dan
tidak begitu penting untuk kelangsungan hidup perusahaan.’ Contohnya adalah
media dan berbagai kelompok kepentingan tertentu.
Perusahaan
tidak bergantung pada kelompok ini untuk kelangsungan hidupnya, tapi mereka
bisa mempengaruhi kinerja perusahaan dengan mengganggu kelancaran bisnis
perusahaan. Clarkson (dalam artikel tahun 1994) juga telah memberikan definisi
yang bahkan lebih sempit lagi di mana stakeholder didefinisikan sebagai suatu
kelompok atau individu yang menanggung suatu jenis risiko baik karena mereka
telah melakukan investasi (material ataupun manusia).
Di
perusahaan tersebut (‘stakeholder sukarela’), ataupun karena mereka menghadapi
risiko akibat kegiatan perusahaan tersebut (‘stakeholder non-sukarela’). Karena
itu, stakeholder adalah pihak yang akan dipengaruhi secara langsung oleh
keputusan dan strategi perusahaan.
Mengacu
pada pengertian stakeholders di atas, maka dapat ditarik suatu
penjelasan tentang stakeholder pendidikan bahwa dalam suatu aktivitas pendidikan
dipengaruhi oleh faktor-faktor dari luar dan dari dalam, yang kesemuanya dapat
disebut sebagai stakeholders.
Atau lebih jelasnya dapat disebut sebagai “para pemercaya”. Dalam bidang
pendidikan, kelangsungan hidup pendidikan bergantung pada dukungan stakeholders (para pemercaya) dan dukungan
tersebut harus dicari sehingga aktivitas penyelenggara pendidikan adalah untuk
mencari dukungan tersebut. Semakin powerful
stakeholdernya, makin besar
usaha penyelenggara pendidikan untuk beradaptasi. (Chariri dan Ghazali dalam
Juanda, 2007)
Stakeholders pendidikan dapat terdiri dari:
a.
Pelanggan Pendidikan
(Siswa/ mahasiswa dan para orang tuanya)
b.
Karyawan Pendidikan
(Pendidik dan Tenaga Kependidikan)
c.
Pemasok Bantuan
Pendidikan (Pemerintah, Perusahaan atau Badan Usaha tertentu)
d.
Distributor (Penyalur
dana dan informasi pendidikan; Bank, jasa perhubungan, komunikasi baik
cetak maupun noncetak). (Zaidun, 2013)
B.
PEMASARAN
DAN UPAYA-UPAYA PENTING UNTUK MEMENGARUHI HARAPAN STAKEHOLDER
1.
Pemasaran
Pendidikan dan Upaya-upaya penting lainnya
Persaingan
dalam dunia pendidikan menjadi tidak dapat terelakkan lagi, banyak lembaga
pendidikan yang ditinggalkan oleh pelanggannya sehingga dalam beberapa tahun
ini banyak terjadi penurunan minat pendaftar dari beberapa lembaga pendidikan.
Kemampuan tenaga atau staf administrator pada sebuah lembaga pendidikan untuk
memahami pemasaran pendidikan menjadi prasyarat dalam mempertahankan dan
meningkatkan pertumbuhan lembaganya.
Ada
beberapa kunci yang dapat dijadikan bahan pertimbangan untuk memahami konsep
pemasaran pendidikan, yaitu konsep pasar. Pasar merupakan tempat bertransaksi
berbagai komoditas yang dihasilkan produsen dengan yang dibutuhkan, diinginkan
dan diharapkan konsumen. Pemasaran ialah proses transaksional untuk meningkatkan
harapan, keinginan dan kebutuhan calon konsumen sehingga calon konsumen menjadi
tergugah untuk memiliki produk yang ditawarkan dengan mengeluarkan imbalan
sesuai yang disepakati, atau dengan kata lain konsumen merasa puas.
Pendidikan
adalah proses perubahan pola pikir, apresiasi dan pembiasaan manusia agar
menjadi manusia. Sekolah merupakan salah satu kelembagaan satuan
pendidikan. Walaupun kebanyakan orang sering mengidentikan sekolah dengan
pendidikan, pendidikan merupakan wahana perubahan peradaban manusia; Manakala
membicarakan sistem pendidikan tidak cukup hanya membahas sistem persekolahan,
sehingga untuk membicarakan pemasaran
pendidikan pun sesungguhnya tidak cukup dengan hanya membahas terbatas
pada pemasaran persekolahan. Karena paradigma pendidikan yang begitu universal
tidak hanya dipandang secara terbatas pada sistem persekolahan.
Pendidikan
merupakan produk jasa yang dihasikan dari lembaga pendidikan yang bersifat non
profit, sehingga hasil dari proses pendidikan kasad mata.Untuk mengenal
lebih dalam dari pemasaran pendidikan maka kita harus mengenal terlebih dahulu
pengertian dan karakteristik jasa dan konsep pemasaran sehingga penerapan
konsep pemasaran pendidikan ada pada posisi yang tepat sesuai dengan nilai dan
sifat dari pendidikan itu sendiri. Oleh karena itu, pendidikan yang dapat laku
dipasarkan ialah pendidikan yang: (1)
Ada Produk sebagai Komoditas; (2) Produknya memiliki standar, spesifikasi dan
kemasan; (3) Punya pangsa/ sasaran yang jelas; (4) Punya jaringan dan media;
dan (5) Tenaga Pemasar. (Irianto, 2014:208)
2.
Harapan
Stakeholder
Seperti telah dikemukakan di awal
pembahasan, bahwa penerapan pemasaran dalam dunia pendidikan adalah untuk
menciptakan kepuasan bagi pelanggan pendidikan. Ketika berbicara tentang
kepuasan maka kita harus menyadari bahwa kepuasan antara satu orang dengan yang
lainnya berbeda, artinya kepuasan berurusan dengan beberapa hal. Kata kepuasan
berasal dari bahasa Latin ”satis” (artinya cukup baik, memadai) dan ”facio”
(melakukan atau membuat), sehingga kepuasan bisa diartikan sebagai upaya
pemenuhan sesuatu atau membuat sesuatu memadai. Menyatakan. “Satisfaction is
the consumer’s fulfillment response. It is a judgement that a product
pleasurable level of consumption related fulfillment” (Zeithaml dalam
Irianto, 2000:75). Jadi dapat ditegaskan bahwa kepuasan merupakan respons
konsumen yang sudah terpenuhi keinginannya tentang penggunaan barang atau jasa
yang mereka pakai.
Pembelian atau pemakaian ulang serta
mengajak temannya untuk menggunakan produk dan jasa yang dihasilkan pendidikan
terjadi karena customer delivered value (nilai yang diterima pelanggan),
secara matematis merupakan selisih dari total customer value – total
customer cost (jumlah segala pengorbanan yang dikeluarkan seseorang). Dalam
arti bahwa dia mengorbankan waktu, tenaga, uang yang kemudian dibandingkan
dengan nilai, manfaat hasil yang ia terima.
Permasalahan-permasalahan yang berkaitan
dengan kepuasan pelanggan sesungguhnya dapat ditelusuri berdasarkan; Pertama, contrast
theory yang berasumsi bahwa konsumen akan membandingkan kinerja produk
aktual dengan ekspektasi para-pembelian, dimana apabila kinerja aktual lebih
besar atau sama dengan ekspektasi, maka pelanggan akan puas, dan sebaliknya
apabila kinerja actual lebih rendah dari ekspektasi maka komsumen akan
mengalami ketidakpuasan.
Kedua, assimilation theory
menyatakan bahwa evaluasi purnabeli merupakan fungsi positif dari ekspektasi
konsumen para-pembelian, karena proses diskonfirmasi secara psikologis tidak
enak dilakukan, konsumen cenderung secara perseptual mendistorsi perbedaan
antara ekspektasi dan kinerjanya ke arah ekspektasi awal sehingga penyimpangan
ekspektasinya cenderung akan diterima oleh konsumen yang bersangkutan.
Ketiga, assimilation-contras theory yang berpegang bahwa terjadinya efek
asimilasi (assimilation effect) atau efek kontras (contrast effect) merupakan
fungsi dari tingkat kesenjangan antara kinerja yang diharapkan dan kinerja
actual. Apabila kesenjangannya besar, konsumen akan memperbesar gap tersebut,
dengan kata lain rentang wakrtu yang diterima (acceptable deviations)
dilewati, maka kesenjangan antara ekspektasi dan kinerja akan menjadi
signifikan sehingga disitulah efek kontras berlaku.
Stauss & Neuhaus (1997) yang dikutip
Fandhy & Gergorius (2005:203) dalam Irianto membedakan lima tipe kepuasan
dan dua tipe ketidakpuasan berdasarkan kombinasi antara emosi spesifik terhadap
penyedia jasa, ekspektasi menyangkut kapabilitas kinerja masa depan pemasok
jasa, dan minat berperilaku untuk memilih lagi penyedia jasa bersangkutan, tipe
tersebut adalah:
a.
Demanding customer satisfaction,
merupakan tipe kepuasan yang aktif, relasi dengan penyedia jasa diwarnai emosi
positif, terutama optimisme dan kepercayaan. Berdasarkan pengalaman positif
dimasa lalu, pelanggan dengan tipe kepuasan ini berharap bahwa penyedia jasa
bakal mampu memuaskan ekspektasi mereka yang semakin meningkat di masa depan, selain
itu mereka bersedia meneruskan relasi yang memuaskan dengan penyedia jasa
sehingga loyalitas akan tergantung pada kemampuan penyedia jasa dalam
meningkatkan kinerjanya seiring dengan tuntutan pelanggan.
b.
Stable customer satisfaction
yaitu pelanggan yang memiliki tingkat aspirasi pasif dan perilaku yang
demanding. Emosi positifnya terhadap penyedia jasa bercirikan steadiness dan
trust dalam relasi yang terbina saat ini, dima mereka menginginkan segala
sesuatunya tetap sama. Berdasarkan pengalaman positif yang telah terbentuk,
mereka bersedia melanjutkan relasi dengan penyedia jasa.
c.
Resigned customer satisfaction,
pelanggan pada tipe ini merasa puas, namun bukan diakibatkan pemenuhan
ekspektasinya, namun lebih didasarkan pada kesan tidak realistis, perilakunya
cenderung pasif cenderung tidak bersedia melakukan berbagai upaya dalam
menuntut perbaikan.
d.
Stable customer dissatisfaction,
pelanggan tidak puas terhadap kinerja penyedia jasa namun cenderung tidak
melakukan apa-apa. Relasi dengan penyedia jasa diwarnai emosi negatif dan
asumís ekspektasi mereka di masa datang tidak akan terpenuhi, dan tidak melihat
adanya peluang untuk perubahan dan perbaikan.
e.
Demanding customer dissatisfaction
bercirikan tingkat aspirasi aktif dan perilaku demanding, pada tingkat emosi
ketidakpuasan menimbulkan protes dan oposisi, mereka aktif menuntut perbaikan.
Dalam
melakukan pengukuran kepuasan pelanggan, Kotler dalam Irianto (2000:38)
mengemukakan beberapa cara diantaranya adalah:
a.
Complaint and Suggestion system
(sistem keluhan dan saran), informasi dari saran dan keluhan ini akan dijadikan
data dalam melakukan antisipasi dan pengembangan perusahaan;
b.
Customer satisfaction surveys
(survey kepuasan pelanggan), tingkat keluhan konsumen dijadikan data dalam
mengukur tentang kepuasan, hal itu bias melalui survey, pos, telpon, atau
angke;
c.
Ghost shopping
(pembeli bayangan), dengan mengirimkan orang untuk melakukan pembelian di
perusahaan orang lain maupun diperusahaan sendiri untuk melihat secara jelas
keunggulan dan kelemahan pelayanannya;
d.
Lost customer analysis
(analisis pelanggan yang beralih), yaitu kontak yang dilakukan kepada pelanggan
yang telah beralih pada perusahaan lain untuk dijadikan perbaikan kinerja dalam
meningkatkan kepuasan.
Secara
umum dapat dikatakan bahwa timbulnya ketidakpuasan dari konsumen dikarenakan
oleh: (1) tidak sesuai harapan dengan kenyataan yang dialaminya, (2)
ketidakpuasan dalam pelayanan selama proses menikmati jasa, (3) perilaku
personil kurang memuaskan, (4) suasana dan kondisi fisik lingkungan tidak
menunjang, (5) ongkos terlalu tinggi, karena jarak, waktu dan harga terlalu
tinggi, (6) promosi tidak sesuai dengan kenyataan. (Irianto, 2014:217)
BAB III
PENUTUP
A.
SIMPULAN
Pada bab pembahasan sebelumnya dapat dibuat
simpulan berikut berdasarkan rumusan masalah yang ada:
1.
Pengertian pemasaran dan pemasaran
pendidikan.
a. Pengertian
pemasaran menurut para ahli:
1) William J. Stanton,
pemasaran adalah sistem keseluruhan dari kegiatan-kegiatan bisnis yang
ditujukan untuk merencanakan, menentukan harga, mempromosikan, dan
mendistribusikan barang dan jasa. Barang dan jasa yang sifatnya memuaskan baik kepada
pembeli yang ada maupun pembeli potensial.
2) Philip dan Duncan, pemasaran adalah sesuatu yang
meliputi semua langkah yang dipakai dan dibutuhkan untuk menempatkan barang ke
tangan konsumen.
3) Sutisna, pemasaran
adalah usaha untuk menyampaikan pesan kepada publik terutama konsumen mengenai
keberadaan produk (barang/ jasa) di pasar.
b. Pengertian pemasaran pendidikan
Pemasaran
pendidikan adalah segala bentuk upaya untuk menginformasikan atau mengenalkan
produk layanan pendidikan yang berkualitas kepada seluruh konsumen pendidikan.
2.
Pengertian stakeholder
a. Pengertian
stakeholder menurut para ahli:
1) Freeman (1984), yang mendefenisikan
stakeholder sebagai kelompok atau individu yang dapat mempengaruhi dan atau
dipengaruhi oleh suatu pencapaian tujuan tertentu.
2) Biset (1998), secara singkat
mendefenisikan stakeholder merupakan orang dengan suatu kepentingan atau
perhatian pada permasalahan.
3) Grimble and Wellard (1996), stakeholder adalah kelompok
atau individu yang memilki posisi dan pengaruh penting.
b. Pengertian
stakeholder pendidikan
Stakeholder pendidikan yakni bahwa dalam suatu aktivitas
pendidikan dipengaruhi oleh faktor-faktor dari luar dan dari dalam, yang
kesemuanya itu dapat disebut sebagai stakeholders.
Atau lebih jelasnya dapat disebut sebagai “para pemercaya”. Dalam bidang
pendidikan, kelangsungan hidup pendidikan bergantung pada dukungan stakeholders (para pemercaya) dan dukungan
tersebut harus dicari sehingga aktivitas penyelenggara pendidikan adalah untuk
mencari dukungan tersebut.
Faktor dalam dan luar tersebut dapat berupa elemen-elemen
(stakeholder pendidikan) sebagai berikut:
1)
Pelanggan Pendidikan
(Siswa/ mahasiswa dan para orang tuanya).
2)
Karyawan Pendidikan
(Pendidik dan Tenaga Kependidikan).
3)
Pemasok Bantuan
Pendidikan (Pemerintah, Perusahaan atau Badan Usaha tertentu).
4)
Distributor (Penyalur
dana dan informasi pendidikan; Bank, jasa perhubungan, komunikasi baik
cetak maupun noncetak).
3.
Upaya pemasaran (pendidikan) yang dapat
memengaruhi harapan stakeholder dapat
ditempuh dengan upaya-upaya pemasaran pendidikan yang baik. Pemasaran
pendidikan yang baik yaitu pemasaran yang memiliki strategi. Adapun strategi
yang dimaksud adalah minimal memperhatikan tingkat kepuasan dan ketidakpuasan
stakeholder pendidikan terutama konsumen.
B.
SARAN
DAN KRITIK
Penyusun menyadari bahwa dalam hal penyusunan tugas ini masih jauh
dari kesempurnaan. Olehnya itu, penyusun mengharapkan saran-saran yang
bermanfaat, begitupula dengan kritik yang konstruktif. Ini semata-mata untuk
kesempurnaan karya tulis selanjutnya.
DAFTAR PUSTAKA
Admin.
2012. Pengertian Pemasaran Menurut Para
Ahli. Jakarta: http://dilihatya.com/729/pengertian-pemasaran-menurut-para-ahli
Irianto, H. Yoyon Bahtiar, Dr. M.Pd. 2014. Pemasaran
Pendidikan. Bandung: http://www.upi.edu
Juanda,
Edwar. 2014. Pengertian Stakeholder.
Surabaya: http://komunikasi.us/index.php/course/strategic-corporate-communication/2060-pengertian-stakeholder
Zaidun,
Achmad. 2013. Membangun
Kepuasan, Nilai Pelanggan dan Upaya mempertahankan pelanggan. Kudus:
http://www.achmadzaidun.blogspot.com
Tidak ada komentar:
Posting Komentar