Jumat, 07 Agustus 2015

MANAJEMEN PENDIDIKAN ISLAM

MENETAPKAN STAKEHOLDER SEKOLAH / MADRASAH


 Disusun Oleh :

NAMA: ANDI NURWAHYUNI LALA
NIM: 14 35 011


PENDIDIKAN GURU MADRASAH IBTIDAIYAH
STAI DDI MAROS
2015





BAB I
PENDAHULUAN

A.Latar Belakang
Manajemen pendidikan adalah keseluruhan(proses) yang membuat sumber-sumber personil dan material sesuai yang tersedia dan efektif bagi tercapainya tujuan-tujuan bersama.Stakeholder berbeda dengan public.Stake holder dapat di katakanan sebagai public,namun belum tentu stakeholder atau tidak semua publik adalah stakeholder,walaupun kata public seringkali di gunakan untuk menggunakan kata “stakeholder”,namun tidak sebaliknya.Publik sendiri diartikan sebagai sekelompok yang memiliki kepentingan atau nilai-nilai yang sama dalam situasi tertentuketika suatu public berhubungan dengan sebuah perusahaan,maka public tersebut barulah dikatakan sebagai suatu Stakeholder yang artinya publictersebut memiliki kepentingan.

 B. Rumusan Masalah
a)        Bagaimanakah cara menetapkan stakeholder sekolah/madrasah?
b)        Apakah peran stakeholder dalam sekolah/madrasah?

C.Tujuan Penulisan

Bagaimana  mengetahui  pentingnya  peran  pendidikan  sebagai  dasar   dalam   upaya pembangunan  masyarakat , serta  meningkatkan kepedulian  dan  minat  masyarakat  terhadap  pendidikan  dengan  jenjang  yang  lebih tinggi.

BAB II
PEMBAHASAN

MENETAPKAN STAKEHOLDER
SEKOLAH / MADRASAH

            Penetapan stakeholder potensial dari lembaga pendidikan merupakan proses yang sangat penting dalam manajemen lembaga. Kesalahan dalam menentukan stakeholder potensial tersebut akan berdampak pada kesalahan dalam proses manajemen selanjutnya yang pada akhirnya akan menimbulkan tidak terserapnya produk dan layanan lembaga pendidikan di masyarakat.
            Sebagaimana terlihat dari hasil pemetaan stakeholder di atas, kegiatan yang dihasilkan dari pemetaan tersebut menghasilkan berbagai harapan dari berbagai kelompok stakeholder. Masing – masing harapan dari kelompok stakeholder tersebut dimungkinkan memiliki perbedaan yang kontras antara satu kelompok stakeholder dengan kelompok stakeholder yang lain. Oleh karenanya tidak mungkin semua harapan dan kebutuhan kelompok stakeholder tersebut dipenuhi oleh lembaga pendidikan. Itulah sebabnya lembaga pendidikan harus memiliki kelompok stakeholder yang akan dipenuhi harapan dan kebutuhannya.
            Proses memilik kelompok stakeholder yang akan menjadi sasaran untuk dilakukan pemenuhan kebutuhan dan harapan tersebut itulah yang disebut dengan proses menetapkan stakeholder potensial. Dalam proses pemilihan ini tentu saja sekolah / madrasah harus juga menyesuaikan dengan kondisi internal lembaga saat ini dan yang akan datang, sehingga apa yang diinginkan dan diharapkan oleh stakeholder tersebut akan dapat dipenuhi oleh lembaga. Itulah sebabnya sebelum dilaksanakan analisis, lembaga pendidikan harus mengetahui hal – hal yang berkaitan dengan sumber daya yang ada di lembaga tersebut. Identifikasi tersebut dapat dilakukan sebagaimana terlihat pada tabel berikut :


1.      Sumber Daya Alam
Tim Manajemen

Jenis Jabatan
Kompetensi
Kualifikasi Pendidikan dan Pelatihan
Pengalaman Kerja
Kepala Madrasah / Sekolah


Waka Kurikulum


Waka Sarana Prasarana


Waka kesiswaan


Waka Humas


Jabatan – jabatan lain


Guru
Bidang Studi
Jumlah
Kompetensi
Kualifikasi Pendidikan dan Pelatihan
Pengalaman Kerja
Fiqih



Aqidah Akhlak



Al – Qur’an Hadis



SKI



Matematika



Kimia



Fisika



Biologi



Geografi



Sosiologi



Antropologi



Ekonomi



Sejarah



Seni Budaya




Bidang Studi
Jumlah
Kompetensi
Kualifikasi Pendidikan dan Pelatihan
Pengalaman Kerja
Teknologi Informasi dan Komunikasi



Pendidikan Jasmani Olahraga dan Kesehatan



Bahasa Arab



Bahasa Inggris



Bahasa Indonesia



Bahasa Asing Lain



Muatan Lokal



Konselor dan guru ekstrakurikuler




Administrasi dan Tenaga Lain

Jenis Tenaga
Jumlah
Kompetensi
Kualifikasi Pendidikan dan Pelatihan
Pengalaman Kerja
Administrasi



Laboran



Teknisi



Tenaga lain





2.      Sumber Daya Nonmanusia
Anggaran

Fungsi
DIPA
PNBP
Yayasan
Bantuan
Luar Negeri
APBD
Bantuan orang tua
Bantuan Lainnya
Jumlah
Loan
Grant
Pendidikan dan pengajaran  









Kesiswaan









Pembangunan fisik









Kesejahteraan pegawai









Perpustakaan









Laboratorium









Belanja barang









Kerumah tanggaan









Pemeliharaan









Kerja sama









Publikasi









Beasiswa









Jumlah















Infrastruktur dan Gedung

Luas tanah dan Bangunan      :
Status Tanah                           :
Luas Bangunan                      :
Data Bangunan                     
Jenis Bangunan
Jumlah
Luas (meter persegi)
Ruang Pimpinan


Ruang Administrasi


Ruang Guru


Ruang Kelas


Ruang Laboratorium


Auditorium / Aula


Gedung Olahraga


Ruang Perpustakaan


Masjid


Asrama


Ruang Koperasi


Kamar mandi / WC


Lapangan Olahraga


Ruang Parkir


Sarana Umum


Ruang Kosong


            Hasil pemetaan sumber daya tersebut kemudian digunakan untuk melakukan analisis dalam menentukan stakeholder utama dari lembaga pendidikan. Proses analisis tersebut dilakukan dengan membandingkan antara sumber daya yang ada di lembaga pendidikan dan proyeksinya empat tahun ke depan dan kebutuhan dan harapan stakeholder. Dalam menentukan stakeholder potensial lembaga pendidikan digunakan perbandingan antara kemampuan pemenuhan sumber daya di lembaga pendidikan sampai dengan empat tahun ke depan dengan tingkat kecukupan dalam pemenuhan kebutuhan dan harapan stakeholder. Semakin tinggi tingkat kesesuaian tersebut, maka akan semakin potensial pula stakeholder tersebut bagi lemabaga pendidikan.
            Proses analisis tersebut akan lebih muda jika dilakukan pertama terlebih dahulu sebagaimana tema – tema yang ada dalam proses pemetaan stakeholder. Untuk menghindari banyaknya analisis per tema yang mungkin perlu dilakukan di sekolah / madrasah maka dapat dipilih tema – tema yang potensial saja. Proses analisis perbandingan per tema tersebut dapat dilakukan dengan menggunakan tabel berikut :

Contoh
Tema : Tingkat Ekonomi 1.000.000 – 2.000.000
.................................................................................................................................                          
Kebutuhan dan harapan stakeholder :
Kemampuan rata – rata menanggung biaya pendidikan : .......................................



  


Sumber Daya
Kemampuan Pemenuhan Sumber Daya (Prosen)
Tingkat Kecukupan dalam Mencapai Kebutuhan  Dan Harapan Stakeholder (Prosen)
Kualifikasi Pencapaian
Th 1
Th 2
Th 3
Th 4
Th 5
SDM
Tim Manajemen

Guru

Administrasi dan Tenaga Lain







Non SDM
Anggaran

Ruang Pimpinan

Kelas

Perpustakaan

Laboratorium

Ruang UKS

Ruang Olahraga

Lapangan Olahraga

Tempat Parkir

Sumber Daya Non Manusia Yang Lain








            Demikian pula analisis terhadap tema – tema yang lain dapat dilakukan sebagaimana tabel di atas. Hasil proses perbandingan dengan mendasarkan tema – tema tersebut kemudian diberikan kualifikasi pencapaian dengan menggunakan skor “A”, “B”, dan “C”. Kualifikasi pencapaian dengan skor “A” mengindikasikan bahwa dengan sumber daya tersebut mestinya lembaga mampu untuk memenuhi kebutuhan dan harapan stakeholder. Kualifikasi “B” mengindikasikan bahwa dengan sumber daya tersebut mestinya lembaga mampu untuk memenuhi kebutuhan stakeholder saja (tanp harapan). Sedangkan kualifikasi “C” mengindikasikan bahwa lembaga tidak akan mampu memenuhi kebutuhan dari stakeholder.
            Selain menganalisis setiap tema, perlu juga dilakukan analisis lintas tema dengan mendasarkan pada skor kualifikasi pencapaian. Misalnya tema – tema yang mendapatkan skor “A” meliputi tema tentang profesi guru, karyawan PNS non – guru, karyawan non-PNS, dan pengusaha. Kemudian tema yang berkaitan dengan tingkat ekonomi meliputi penghasilan 2.000.000 ke atas dan tema tentang jarak rumah stakeholder mencakup radius 0 – 10 kilometer dari sekolah / madrasah. Dengan mendasarkan tema – tema yang mendapatkan skor kualifikasi pencapaian “A” tersebut kemudian dilakukan analisis tema profesi pengusaha – penghasilan di atas 5.000.000 – jarak rumah ke sekolah / madrasah di atas 5 kilometer. Jika hasil analisis tersebut tetap menghasilkan kualifikasi pencapaia “A”, maka profesi pengusaha dengan penghasilan di atas 5.000.000 dan rumahnya lebih dari 5 kilometer ke sekolah / madrasah merupakan stakeholder potensial lembaga pendidikan tersebut. Mungkin saja akan terdapat kesamaan hasil dengan analisis lintas tema yang lain, karena adanya kebutuhan dan harapan yang sama. Dengan demikian, dimungkinkan bahwa stakeholder potensial dari lembaga pendidikan tersebut terdiri dari beberapa profesi, beberapa tingkat ekonomi dan beberapa segmen yang mendasarkan pada jarak rumah ke sekolah / madrasah.

Contoh
Tema : Profesi pengusaha – penghasilan di atas 5.000.000 – Rumah berjarak 5 km atau lebih         dari sekolah / madrasah.
Kebutuhan dan harapan stakeholder :
...............................................................................................................................................                                    
Kemampuan rata – rata menanggung biaya pendidikan : .........................................

Sumber Daya
Kemampuan Pemenuhan Sumber Daya (Prosen)
Tingkat Kecukupan dalam Mencapai Kebutuhan  Dan Harapan Stakeholder (Prosen)
Kualifikasi Pencapaian
Th 1
Th 2
Th 3
Th 4
Th 5
SDM
Tim Manajemen

Guru

Administrasi dan Tenaga Lain







Non SDM
Anggaran

Ruang Pimpinan

Kelas

Perpustakaan

Laboratorium

Ruang UKS

Ruang Olahraga

Lapangan Olahraga

Tempat Parkir

Sumber Daya Non Manusia Yang Lain







Rata – rata kualifikasi pencapaian : ...........................................................................

            Analisis tentang kesesuaian tersebut tentu harus dilakukan dengan mendasarkan prinsip jujur, mandiri, dan keterbukaan. Jujur artinya bahwa lembaga pendidikan harus mampu menggambarkan dengan jujur perkembangan sumber dayanya selama 5 tahun ke depan dan secara jujur menyatakan “mampu” atau “tidak mampu” dalam pemenuhan sumber daya tersebut. Dengan demikian kualifikasi pencapaian “A” atau “B” atau “C” yang dihasilkan dari proses analisis tersebut benar – benar menggambarkan kondisi yang sesungguhnya.
            Mandiri artinya bahwa proses analisis tersebut dilakukan dengan inisiatif sendiri dan harus dilakukan secara periodik. Dengan demikian, perkembangan atau penurunan dari sumber daya tersebut dapat diketahui sehingga skor kualifikasi pencapaian benar – benar dapat dipakai patokan.
            Keterbukaan artinya bahwa proses analisis tersebut dilakukan oleh tim dan dibahas dalam forum sekolah / madrasah secara terbuka, sehingga berbagai kekurangan dalam proses analisis dapat diperbaiki dan skor kualifikasi pencapaian benar – benar dapat dipakai patokan.
            Selain menggunakan analisis sebagaimana telah diuraikan di atas. Proses penentuan stakeholder potensial juga harus memperhitungkan latar belakang dan hal – hal yang menjadi dasar dalam pendirian lembaga pendidikan tersebut. Hal – hal yang berkaitan dengan latar belakang dan dasar pendirian lembaga tersebut tidak dapat dianalisis dengan menggunakan logika, namun biasanya diketahui secara jelas oleh pendiri atau pimpinan lembaga. Jika para pendiri lembaga masih hidup, maka dengan mudah dapat diidentifikasi landasan dan latar belakang pendirian lembaga. Biasanya para pendiri lembaga sekaligus juga menjadi pemimpin lembaga tersebut sehingga proses penentuan stakeholder potensial tinggal hanya mengadopsi analisis tentang kecukupan sumber daya terhadap pencapaian kebutuhan dan harapan stakeholder. Sedangkan jika pemimpin lembaga sudah bukan pendiri, maka visi pemimpin lembaga tersebut akan sangat berperan terhadap penentuan stakeholder potensial lembaga.
            Dengan mendasarkan pada stakeholder potensial lembaga dan berbagai landasan filosofis lembaga inilah kemudian kegiatan utama lembaga pendidikan dapat ditentukan. Walaupun secara garis besar kegiatan utama sekolah / madrasah adalah pendidikan dan pengajaran, namun dalam proses pelaksanaannya terdapat berbagai variasi yang merupakan perwujudan dari keinginan dan harapan dari stakeholder potensial.
            Berbagai bentuk pembelajaran dalam mata pelajaran muatan lokal atau berbagai jenis pelayanan dalam proses pendidikan dan pengajaran serta penunjangnya merupakan beberapa contoh yang dapat dilihat jika hendak mengidentikasi stakeholder potensial lembaga pendidikan. Sekolah / madrasah yang memiliki stakeholder potensial dari tingkat ekonomi menengah ke atas misalnya akan melaksanakan proses pembelajaran dengan menggunakan berbagai bantuan teknologi, setiap kelas dibimbing oleh beberapa guru, kegiatan pembelajaran kontekstual dapat dilaksanakan dengan baik, pembimbingan anak dengan menggunakan teori belajar konstruktivis dapat dilaksanakan, dan berbagai bentuk layanan pendidikan lainnya dapat dengan mudah untuk dilaksanakan. Sedangkan madrasah yang terletak di daerah dengan banyak pondok pesantren dengan stakeholder utamanya berasal dari santri pondok pesantren akan melaksanakan berbagai kegiatan pembelajaran yang sangat terkait dengan berbagai pelajaran yang ada di pondok pesantren tersebut dan kegiatan – kegiatan yang sangat terkait dengan pondok pesantren.

BAB III
PENUTUP

A.Kesimpulan
Stakeholder Lembaga pendidikan merupakan proses yang sangat penting dalam manajemen lembaga.Kesalahan dalam menentukan stakeholder potensial tersebut akan berdampak pada kesalahan dalam proses perubahan menejemen selanjutnya yang pada akhirnya akan menimbulkan tidak terserapnya produk dan layanut dengan lembaga pendidikan di masyarakat.Itulah sebabnya sebelum dilakukan analisis,lembaga pendidikan,harus mengetahui hal-hal yang berkaitan dengan sumber daya yang ada di lembaga tersebut dengan memproyeksikan stakeholder utama kedepan.
B.Saran
Semoga makalah ini bermanfaat bagi penulis khususnya rapa pembaca,kami harapkan keritik dan saran yang membangun kepada penulis demi kesempurnaan makalah ini.
SEKOLAH / MADRASAH SEBAGAI PEMBELAJAR



DISUSUN OLEH

v A.PERAWATI

SEKOLAH TINGGI AGAMA ISLAM DARUD DA`WAH WAL-IRSYAD
(STAI DDI) MAROS

BAB I 
PENDAHULUAN

       Sekolah adalah sebuah konsep yang mempunyai makna ganda. Pertama, sekolah berarti suatu bangunan atau lingkungan fisik dengan segala perlengkapannya yang merupakan tempat untuk menyelenggarakan proses pendidikan tertentu bagi kelompok manusia tertentu. Dengan demikian, apabila kita mendengar perkataan “sekolah” maka yang terbayang adalah lingkungan fisik seperti  itu. Bayangan sekolah sebagai lingkungan fisik seperti itu diperkuat dengan keseragaman relative mengenai bentuk bangunan dan perlengkapannya,sehingga dapat dikatakan bahwa kondisi fisik sekolah-sekolah yang sejenis dan setingkat relative sama. Kedua,sekolah berarti suatu proses atau kegiatan belajar mengajar. Kita bisa menggunakan istilah “menyekolahkan” anak, atau mengatakan”anak  saya bersekolah SMP Negeri 1”. Dalam hal ini apabila mendengar perkataan”sekolah”maka yang terbayang di kepala kita adalah proses pendidikan itu sendiri.
Jadi dalam hal ini sekolah dipandang sebagai sebuah pranata untuk memenuhi kebutuhan khusus tertentu. Bisa juga “sekolah”diartikan sebagai sebuah organisasi ,yaitu organiasi social yang mempunyai struktur tertentu yang melibatkan sejumlah orang dengan tugas melaksanakan suatu fungsi untuk memenuhi suatu kebutuhan. Sesungguhnya ketiga pengertian itu selalu berdampingan,karena proses belajar berjalan dalam sebuah lokasi dan diselenggarakan oleh organisasi yang mempunyai struktur dan tujuan tertentu. Penampilan keterpaduan antara ketiga makna tersebut dipengaruhi oleh berbagai factor seperti jumlah,tingkat usia, serta karakteristik lain yang menandai orang-orang yang terlibat didalamnya serta tujuan,program kerja dan kegiatan yang dilaksanakan,lama waktu penyelenggaraan,dan pendekatan yang digunakan. Akan tetapi diantara semuanya itu terdapat persamaan yaitu bahwa setiap lembaga yang dinamakan sekolah berperan mengurusi manusia,bukan mengurusi benda-benda mati.
Dalam hal ini Setiap sekolah memiliki komponen-komponen sarana fisik seperti lahan,bangunan (kantor, ruang belajar,jamban,dan lain-lain),kurikulum,dan orang-orang (guru,pimpinan,karyawan non edukatif, dan pelajar). Komponen-komponen tersebut menyumbang dengan fungsi dan perannya untuk keberhasilan lembaga. Sebagai sebuah system,sekolah mempunyai keterkaitan dengan sistem lain yang jumlahnya tidak sedikit. Sistem luar itu meliputi antara lain orang tua siswa,komuniti sekitar sekolah dll. Pola hubungan antara sekolah dengan system lain diwarnai dan diisi dengan informasi-informasi yang berarah timbale balik. Input atau timbal balik itu dapat berupa dorongan bagi sekolah untuk mengadakan perubahan pada struktur atau interaksi edukatif di dalamnya atau untuk mempertahankan yang telah ada. Umpan balik yang menimbulkan perubahan disebut morfogenis,sedangkan yang mendorong untuk mempertahankan corak struktur dan interaksi yang telah ada dinamakan umpan balik yang bersifat morfostatis.

BAB 2
PEMBAHASAN
A.    PENGERTIAN SEKOLAH SEBAGAI OARGANISASI 
1.      Sekolah
Kata sekolah berasal dari bahasa latin, yakni skhole, scolae, skhoe atau scolae yang memiliki arti waktu luang atau waktu senggang, dimana ketika itu sekolah adalah kegiatan diwaktu luang bagi anak-anak ditengah kegiatan mereka, yakni bermain dan menghabiskan waktu menikmati masa anak-anak dan remaja. Kegiatan dalam waktu luang adalah mempelajari cara berhitung, secara membaca huruf dan mengenal tentang moral ( budi pekerti ) dan estetika ( seni ). Utuk mendampingi dalam kegiatan scola anak-anak didampingi oleh orang ahli dan mengerti tentang psikologi anak, sehingga memeberikan kesempatan-kesempatan yang sebebsar-besarnya kepada anak – anak untuk menciptakan sendiri dunianya melalui berbagai pelajaran diatas.1[1]
Kini, kata sekolah dikatakan sunarto (1993 ), telah berubah berupa bangunan atau lembaga untuk belajar dan serta tempat memberi dan menerima pelajaran,. Sekolah dipimpin oleh seorang kepala sekolah, dan kepala sekolah dibantu oleh wakil kepala sekolah, jumlah kepala sekolah bisa berbeda pada tiap sekolahanya, tergantung dengan kebutuhan. Bangunan sekolah disusun meninggi untuk memenfaatkan tanah yang tersedia dan dapat diisi dengna fasilitas yang lain. Ketersidiaan sarana pada suatu sekolah memiliki peranan penting dalam terlaksanakan proses pendidikan.2[2]
Sekolah adalah sebuah lembaga yang dirancang un tuk pengajaran siswa atau murid di bawah pengawasan pendidik ( guru ). sebagian besar negara memiliki sistem pendidikan formal, yang umumnya wajib, dalam upaya menciptakan anak didik agar mengalami kemajuan setelah melalui proses pembelajaran. Nama- nama sekolah ini berfariasi menurut negara, tetapi umumnya termasuk sekolah dasar untuk anak – anak muda dan sekolah menengah untuk remaja yang telah menyelesaikan sekolah dasar.3[3] 
Ada pula sekolah non pemerintah, yang yang disebut sekolah swasta ( private schools ). Sekolah suwasta mungkin untuk anak- anak dengan kebutuhan khusus ketika pemerintah tidak bisa memberi sekolah khusus bagi mereka, keagamaan, seperti sekolah Islam ( madrasah, pesantren ) ; sekolah kristen, sekolah katolik, sekolah Hindu, sekolah Buda atau sekolah khusus lainya yang memeiliki standar lebih tinggi untuk memepersiapkan prestrasi pribadi anak didik.4[4]
2.      Organisasi 
Robert Presthus dalam bukunya The Organizational Society (1962) menyatakan bahwa masyarakat kita merupakan yang terdiri dari organisasi-organisasi.5[5] Pernyataan tersebut menunjukkan betapa organisasi telah menjadi fenomena yang menonjol dalam kehidupan. Jadi organisasi merupakan kumpulan orang-orang yang bekerja sama untuk mencapai tujuan bersama. 
Menurut Sondang P. Siagian organisasi adalah setiap bentuk persekutuan antara dua orang atau lebih yang bekerja sama untuk sesuatu tujuan bersama dan terikat secara formal.6[6]
Atmosudirdjo berpendapat bahwa organisasi adalah suatu bentuk kerja sama antara sekelompok orang-orang berdasarkan suatu perjanjian untuk bekerja sama guna mencapai tujuan yang tertentu.7[7]
Dari pendapat para ahli di atas dapat kita simpulkan bahwa organisasi adalah sekelompok orang yang memiliki visi dan misi sama yang saling berkaitan yang tidak dapat diganggu gugat dengan yang lainnya, sehinnga organisasi itu dapat berjalan dengan lancar dan sebagaimana mestinya.

3.      Sekolah Sebagai Organisasi
Sekolah sebagai organisasi adalah perkumpulan sosial yang dibentuk oleh masyarakat, baik yang berbadan hukum maupun yang tidak berbadan hukum, yang berfungsi sebagai sarana partisipasi masyarakat dalam pembangunan bangsa dan Negara. Sebagai makhluk yang selalu hidup bersama-sama, manusia membentuk organisasi sosial untuk mencapai tujuan-tujuan tertentu yang tidak dapat mereka capai sendiri. Terbentuknya lembaga sosial berawal dari individu yang saling membutuhkan kemudian timbul aturan-aturan yang dinamakan norma kemasyarakatan . lembaga sosial sering pula dinamakn pranata sosail. 8[8]
Philip Robinson (1981) menyebut sekolah sebagai organisasi yaitu unit sosial yang secara sengaja dibentuk untuk tujuan-tujuan tertentu. Sekolah sengaja diciptakan untuk tujuan tertentu, yaitu memeudahkan pengajaran sejumlah pengetahuan.9[9]
Sekolah sebagai organisasi memiliki perbedaan dengan organisasi lainnya, sebagai contoh dengan organisasi pabrik atau klub sepak bola. Secara umum, yang membedakan segala organisasi dari organisasi yang lainnya tujuan yang ingin dicapai. Sebuah pabrik sepatu dipastikan memiliki tujuan menghasilkan barang-barang jadi berupa alas kaki, sedangkan sekolah bertujuan menghasilkan individu-individu yang terdidik.10[10] 

B. SEKOLAH /MADRASAH SEBAGAI ORGANISASI PEMBELAJAR

            Kondisi eksternal organisasi yang sangad cepat berubah merupakan sebuah tantangan utama dari organisasi untuk dapat hidup terus. Sebagaimana makhluk hidup, organisasi juga harus pandai menyesuaikan diri dengan lingkungannya jika menginginkan untuk hidup dalam usia yang lebih panjang. Ketidakmampuan organisasi menyesuaikan diri dengan lingkungannya akan dapat menyebabkan organisasi tersebut mengalami masalah serius bahkan dapat berakhir dengan kematian (kebangkrutan).
            Dalam iklim makro organisasi yang sangad cepat mengalami perubahan tersebut, ditambah dengan iklim kompetisi antar organisasi yang semakin kuat menuntut organisasi apapun termasuk sekolah/ madrasah untuk selalu mampu mengalami perubahan dan persaingan. Sekolah/ madrasah sebagai lembaga pendidikan harus mampu berkompetisi dengan sesama, juga harus mampu berkompetisi dengan sekolah/madrasah lain, bahkan harus mampu berkompetisi dengan lembaga-lembaga kursus dan dunia kerja. Untuk mampu berkompetisi tersebut sekolah/madrasah harus mampu melihat berbagai kebutuhan dan harapan stakeholder. 
         Namun sama dengan lembaga pendidikan yang lain stakeholder sekolah/ madrasah bukanlah stakeholder tunggal, namun memiliki berbagai stakeholder, walaupun stakeholder-stakeholder tersebut masih dapat diurutkan tingkat potensialnya.
Upaya untuk selalu memenuhi kebutuhan dan harapan stakeholder inilah yang kemudian menuntut sekolah/madrasah untuk meningkatkan mutu layanan dan produknya.Namun sayangnya, kebutuhan dan harapan stakeholder bukanlah merupakan sesuatu yang bersifat statis, tetapi bersifat dinamis, bahkan sering kali perubahannya berlansung sangad cepat dan tidak berpola.Kondisi ini tentu akan sangat memukul sekolah/ madrasah , jika sekolah/madrasah tersebut tidak memiliki kemampuan untuk berubah dan menyesuaikan diri dengan cepat. Dengan kata lain untuk saling menjaga mutu produk dan layananya sekolah / madrasah juga harus memiliki kemampuan untuk selalu berubah menyesuaikan diri dengan kondisi makro yang berkembang. Sekolah/ madrasah yang memiliki kemampuan an kelenturan untuk berubah tersebut hanya dapat dicapai jika sekolah/madrasah tersebut memiliki kemampuan mengelola sumber daya menusia (SDM) dengan baik.
suatu organisasi pembelajar adalah organisasi yang ; 
Mempuanyai suatu dimana anggota-anggotanya secara individu terdorong untuk belajar da mengembangkan potensi penuh mereka 
Memperluas budaya belajar ini sampai pada pelanggan, pemasok, dan stakeholder lain yang siknifikan
Menjadikan strategi pengembangan sumber daya manusia sebagai pusat kebijakan bisnis, dan 
Berada dalam proses transformasi oraganisasi secara terus menerus. 
Tujuan proses transformasi sebagai aktifitas sentral, adalah agar organisasi mampu mencari secara luas ide-ide baru, masalah-masalah baru dan peluang-peluang baru untuk pembelajaran, dan mampu memanfaatkan keunggulan kompetitif dalam dunia yang semakin kompetitif.
Sekolah /madrasah sebagai organisasi pembelajar merupakan kumpulan dari individu pembelajar yang ada didalamnya. Namun demikian, sekolah/madrasah dapat dikatakan sebagai organisasi pembelajar jika memiliki ciri-ciri ;
Sekolah/ madrasah memberikan kesempatan dan mendorong setiap individu yang ada didalamnya untuk terus belajar dan memperluas kapasiras dirinyadan
Sekolah/ madrasah tersebut meruakan organisasi yang siap menghadapi perubahan dengan mengelolah perubahan itu sendiri (managine cahange). 
Untuk menjadi sebuah oragnisasi pembelajar,sekolah/madrasah harus mampu mendorong timbulnya suatu kondisi prasyarat yang oleh PETER Senge disebut sebagai lima hal inti dalam pembentukan organsasi pembbelajar. Kondisi prasyarat dirancang dan dilaksanakan secara sistematis oleh sekolah/madrasah. Kelima hal tersebut adalah ;
Keahlian pribadi (PERSONAL MASTERY);
Model mental (mental model)
Visi bersama (shared vision)
Pembelajaran tim(team learning)
Pemikran sistem (sistem thinking) (sange, 1990)
Sementara itu, michael j.Marqaurdt menambahkan satu kondisi prasyarat lagi yaitu dialog (dialogue).sedangkan Guthrie menambahkan dan menyempurnakan dengan empal hal sebagai beriku ; 
Pembelajaran tim dan pembelajaran umum(public and team learning)
Bertindak penuh makna dengan memperhitungkan berbagai kemungkinan ( Acting in highlevel of ambiguity)
Dialog secara umum (dialogue generatyvely)
Melihat organisasi sebagai satu kesatuan yang tidak terpisahkan (viewing the organization as an integrated whole).
Penguasaan pribadi (personal mastery)adalah suatu budaya dan organisasi yang diterapkan sebagai cara bagi semua individu dalam oraganisasi untuk bertidak dan melihat dirinya.Pengusaan pribadi ini mestinya harus sangad dikuasai oleh orang-orang yang bekerja disekolah/madrasah. Hal tersebut dikarenakan disekolah/madrasah kondisi ini dituntut pada semua jenis mata pelajaran untuk mampu menginternalisasikan kecakapan hidup (live skill).Dalam kecakapan hidup tersebut salah satu yang harus diinteralisasikan adalah adalah kecakapan mengenal diri sendri. Tentu saja sangad sulit untuk menginternalisasikan nilai-nilai ini kepada siswa sekolah/madrasah, jika para guru tidak memiliki kemampuan untuk mengenal dirinya sendiri. 
Penguasaan pribadi merupakan suatu disipin yang mestinya harus dimiliki oleh setiap orang yang menginginkan kehidupan yang baik. Dengan penguasaan diri seseorang akan mengetahui apa yang harus dilakukan dan apa yang tidak perlu dilakukan. Pengeuasaan diri yang baik akan membentuk kemampuan untuk senantiasa mengklarifikasiakan an mendalami visi pribadi, memfokuskan energi, mengembangkan kesabaran, dan memandang realiras secara objektif.engusaan pribadi juga merupakan kegiatan belajar untuk meningkatkan kapasitas pribadi kita untuk menciptakan hasil yang paling kita inginkan, dan menciptakan 


Era global sekarang dengan tingkat perubahan yang sangat pesat mengakibatkan banyak ketidakpastian masa depan yang dilalui. Dengan ini menuntut setiap organisasi untuk mempersiapkan diri dalam menghadapi permasalah tersebut. Berkaitan dengan lembaga pendidikan seperti sekolah, Hoy dan Miskle (2001) menyatakan perlunya sekolah menjadi organisasi pembelajar.11[11] 
Menurut Bischoff organisasi pembelajar adalah organisasi yang mencari untuk menciptakan masa depannya, menjadikan pembelajaran sebagai proses kretif yang terjadi berkesinambungan bagi seluruh anggotanya, mengembangkan, beradaptasi, dan mentransformasikan dirinya dalam menjawab kebutuhan serta aspirasi orang – orang di dalam organisasi ataupun luar organisasi baik secara individu maupun kolaktif untuk terus meningkatkan kapasitas mereka dalam berkarya sesuai dengan perannya dalam organisasi. 
Sekolah pada dasarnya merupakan lembaga tempat di mana proses pembelajaran terjadi terutama dalam pemahaman konvesional, di mana belajar dilakukan oleh siswa dan guru berupayah untuk membelajarkan siswa agar dapat mencapai kompetensi yang diharapakan. Belajar dan pembelajaran siswa akan makin meningkat dan berkualitas apabila seluruh unsure dalam organisasi sekolah meningkat dan berkualitas sehingga kapasitas organisasi sekolah terus mengalami peningkatan dan perluasan kearah yang lebih baik dan produktif dalam perubahan dewasa ini.
Sebagai lembaga pendidikan tempat terjadinya proses pembelajaran maka mengelola organisasi sekolah memerlukan kebijakan manajemen dan kepemimpinan yang dapat memberi ruang bagi tumbuh dan berkembangnya kreativitasnya dan inovasi. Oleh karena itu, organisasi perlu mengelola hal tersebut secara efektif untuk dapat menumbuhkan sinergitas dalam organisasi di antara berbagai individu yang terlibat di dalamnya.
C.    FUNGSI- FUNGSI SEKOLAH SEBAGAI ORGANISASI DAN SASARAN ORGANISASI SEKOLAH 
Sekolah sebagai organisasi sosial dalam sosiologi, peran dan fungsinya sebagai berikut :
1.      Fungsi manestifasi pendidikan
Yaitu membantu orang mencari nafkah ; menolong mengembangkan potensinya demi pemenuhan kebutuhan hidupnya ; melestarikan kebudayaan dengan cara mengajarkanya kepada generasi kegenerasi berikutnya; merangsang partisipasi demokrasi melalui pengajaran keterampilan berbicara dan mengembangkan cara berfikir rasional dan lain-lain 
2.      Fungsi laten lembaga pendidikan 
Dimana fungsi ini bertalian dengan fungsi pendidikan secara tersembunyi yakni menciptakan atau melahirkan kedewasaan anak didik. 

Dikatakan Horton dan Hurt( 1996 ) bahwa ada empat jenis sasaran organisasi sekolah. Tiap sasaran meliputi titik tolak pandangan terhadap organisasi sekolah dari empat pandangan itu, diharapkan dapat memahami tentang organisasi sekolah. Yaitu :
Pertama, sasaran formal dimana ruang lingkup sasaran ini meliputi tujuan formal dari suatu organisasi, wujud dari sasaran ini tercantum dalam aturan-aturan tertulis. Tuntutan formal organisasi menghendaki agar tugas dan tanggung jawab dalam penyelenggaraan sekolah Untuk mencapai tujuan dibagi secara merata dengan baik sesuai dengan kemampuan, fungsi dan wewenang yang telah ditentukan. Melalui stuktur organisasi yang ada, tercermin adanya tugas dan wewenang kepala sekolah, tugas dan guru dan staf administrasi sekolah.
Kedua, sasaran informal, dimana tidak sepenuhnya bekerja sesui dengan ketentuan formal. Dalam banyak hal, lebih dimodifikasi oleh tiap anggotanya sesuai dengan kapasitas pemaknaan kesadaran mereka tentang organisasi. Di sekolah seorang kepala sekolah mungkin mendapat tanggung jawab sebagai pemimpin dan penguasa formal tertinggi. Akan tetapi, pemnerimaan dan pola fikir serta tingkah laku kepala sekolah merupakan konstruksi pemahaman subjektifnya dalam kelangsungan hubungan dengan berbagai pihak dilingkungan sekolahnya. Jadi, sasaran informal merupakan interprestasi dan modifakasi sasaran – sasaran formal dari seluruh anggota yang terlibat langsung pada wadah organisasi. Sasaran ini mencakup pula persepsi masing – masing indifidu dan menjadi tujuan kegiatan pribadi dalam organisasi. Masing – masing siswa tentunya memiliki tujuan yang berfariasi dalam kelangsungan setatusnya sebagai pelajar. Mungkin ada yang berharap mendapat prestasi akademik tinggi atau memperoleh ijazah, serta ada juga yang hanya menjalankan taradisi masyarakat. Seorang pendidik mungkin hanya untuk mencari gaji, tetapi sebagianlainya masih memiliki loyalitas dan komitmen sebagai pedidik. 
Ketiga, sasaran idealogis. Seperti tersirat dalam istilah tersebut, sasaran idealogis bertalian dengan seperangkat sistem eksternal atau sistem nilai yang diyakini bersama. Dalm hal ini, nuansa budaya pada pengertian sebagai suati sistem pengetahuan, gagasan dan idea yang dimiliki suatu kelompok masyarakat yang berfungsi sebagai landasan pijak dan pedoman bagi masyarakat itu dalam bersikap dan berorilaku dalam lingkungan alam dan sosial tempat mereka bernaung . hal inimerupakan penjabaran dari pengaruh idealogis terhadap organisasi. Sasaran ini mayoriti pengaruh interaktif kultural idealogis yang dianut oleh sebagian besar manusia dalam manangkap,menyikapi dan merespons ekstensi organisasi. Suatu bangsa umumnya memiliki semangat yang tinggi untuk meraih prestasi vertikal, sementara sekolah merupakan wadah yang cukup strategis bagi mansia untuk menopang ambisi mobilitas vertikalnya. Maka, bisa diamsusikan hampir sebagian besar warga sekolah maupun masyarakat akan mengarahkan keyakinan kultural tersebut dalam memaknai keberadaan sekolah.
Keempat, sasaran-sasaran lain yang kurang begitu kuat. Penekanan sasaran ini akan menonjol pada suatu proses aktifitas organisasi yang biasa. Berkurangnya pendaftaran di dekolah-sekolah dan universitas dapat mengubah secara luas peran para pendidik atau organisasi ruang sekolah, termasuk rasioi pendidik ( guru ) terhadap anak didik ( siswa ) beserta kelas – kelas yang terpesialisasi . jika tidak, sejumlah pendidik akan menganggur.
Dari pendapat Horton dan Hurt ( 1996 ) tentang jenis sasaran sekolah di atas, mengisaratkan suatu pola pandang berbeda dari pandangan umum tantang sekolah. Sebagai organisasi, sekolah bukan hanya sekedaar tumpukan peran-peran tumpukan struktural yang kakau, statis dan jalur kerja yang serba mekanistis belaka. Mekanisme itu mengalam dinamika akualisasi melalui aneka ragam interpretasi para anggota yang melatarbelakangi perilaku manusia dalam mengembangkan peran dan status yang berbeda beda.

D.    FAKTOR-FAKTOR YANG MEMPENGARUHI SUSUNAN ORGANISASI SEKOLAH 
Ada beberapa faktor yang dapat memepengaruhi perbedaan dalam susunan organisasi sekolah, antara lain :15[15] 
1.      Besar kecilnya sekolah 
Ada sekolah yang mempunyai banyak merid, banyak guru dan banyak pula ruangan belajarnya, tetapi ada pula yang sebaliknya. Ada sekolah yang banyak murid-muridnya, tetapi tidak cukup guru-gurunya, tidak cukup ruangan belajarnya, dsb
2.      Letak sekolah 
Sekolah yang berada dikota besar berlainan sekolah di kota kecil, dikota kecamatan, di pegunungan, dipinggir pantai, dsb. Letak sekolah atau lingkungan sekolah menentukan tokoh-tokoh masyarakat siapakah yang perlu diikut sertakan didalam membangun dan membina sekolah itu.
3.      Jenis dan tingkatan sekolah 
Sekolah kejurusan berbeda dengan sekolah umum, sekolah dasar berbeda dengan SLP/SLA, dan berbeda pula dengan perguruan tinggi.


E.     PENTINGNYA ORGANISASI SEKOLAH YANG BAIK
Sekolah, sebagai suatu lembaga pendidikan yang didalamnya terdapat kepala sekolah, guru-guru, pegawai tata usaha dan murid-murid, memerlukan adanya organisasi yang baik agar jalanya sekolah itu lancar menuju kepada jalanya.
Menurut sistem persekolahan di Negeri kita, pada umumnya kepala sekolah merupakpan jabatan yang tertinggi di sekolah itu sehingga dengan demikian kepala sekolah memegang perananan dan pimpinan segala sesuatunya yang berhubungan dengan tugas sekolah dengan demikian kepala sekolah memegang peranana dan pimpinan segala sesuatunya yang berhubungan drngan tugas sekolah ke dalam maupun keluar. Maka dari itu, dalam stuktur organisasi sekolah sekolah pun kepala sekolah biasanya selalu didudukan di tempat yang paling atas.
Fktor lain yang menyebabkan perlunya organisasi sekolah yang baik ialah karena tugas guru-guru tak hanya mengajar saja juga pegawai- pegawai tata usaha, pesuruh dan penjaga sekolah dan lain-lain. Semuanya harus bertanggung jawab dan didkut sertakan dalam menjalankan roda sekolah itu secara keseluruhan. Dengan demikian agar janga terjadi tabrakan dalam memegang atau menjalankan tugasnya masing-masing, diperlukan organisasi sekolah yang baik dan teratur.
Dengan organisasi sekolah yang baik dimaksudkan agar pembagian tugas dan tanggung jawab dapat merata kepada semua orang sesuai dengan kecakapan dan fungsinya masing- masing. Tiap orang mengerti dan menyadari tugasnya dan tempatnya didalam setruktur organisasi itu. Dengan demikian dapat dapat dihindari pula adanya tindakan yang sewenang-wenang atau otoriter dari kepala sekolah, dan sebaaliknya dapat diciptkan danya suasana yang demokratis didalam menjalankan roda sekolah ini.19[19]


SEKOLAH /MADRASAH SEBAGAI ORGANISASI PEMBELAJAR

Kondisi eksternal organisasi yang sangad cepat berubah merupakan sebuah tantangan utama dari organisasi untuk dapat hidup terus. Sebagaimana makhluk hidup, organisasi juga harus pandai menyesuaikan diri dengan lingkungannya jika menginginkan untuk hidup dalam usia yang lebih panjang. Ketidakmampuan organisasi menyesuaikan diri dengan lingkungannya akan dapat menyebabkan organisasi tersebut mengalami masalah serius bahkan dapat berakhir dengan kematian (kebangkrutan).
Dalam iklim makro organisasi yang sangad cepat mengalami perubahan tersebut, ditambah dengan iklim kompetisi antar organisasi yang semakin kuat menuntut organisasi apapun termasuk sekolah/ madrasah untuk selalu mampu mengalami perubahan dan persaingan. Sekolah/ madrasah sebagai lembaga pendidikan harus mampu berkompetisi dengan sesama, juga harus mampu berkompetisi dengan sekolah/madrasah lain, bahkan harus mampu berkompetisi dengan lembaga-lembaga kursus dan dunia kerja. Untuk mampu berkompetisi tersebut sekolah/madrasah harus mampu melihat berbagai kebutuhan dan harapan stakeholder. 
Namun sama dengan lembaga pendidikan yang lain stakeholder sekolah/ madrasah bukanlah stakeholder tunggal, namun memiliki berbagai stakeholder, walaupun stakeholder-stakeholder tersebut masih dapat diurutkan tingkat potensialnya.
Upaya untuk selalu memenuhi kebutuhan dan harapan stakeholder inilah yang kemudian menuntut sekolah/madrasah untuk meningkatkan mutu layanan dan produknya.Namun sayangnya, kebutuhan dan harapan stakeholder bukanlah merupakan sesuatu yang bersifat statis, tetapi bersifat dinamis, bahkan sering kali perubahannya berlansung sangad cepat dan tidak berpola.Kondisi ini tentu akan sangad memukul sekolah/ madrasah , jika sekolah/madrasah tersebut tidak memiliki kemampuan untuk berubah dan menyesuaikan diri dengan cepat. Dengan kata lain untuk saling menjaga mutu produk dan layananya sekolah / madrasah juga harus memiliki kemampuan untuk selalu berubah menyesuaikan diri dengan kondisi makro yang berkembang. Sekolah/ madrasah yang memiliki kemampuan an kelenturan untuk berubah tersebut hanya dapat dicapai jika sekolah/madrasah tersebut memiliki kemampuan mengelola sumber daya menusia (SDM) dengan baik.
Berdasarkan pada berbagai kondisi perubahan yang cepat dan faktor persaingan yang tinggi itulah yang kemudian menghasilkan kosakata baru dalam ilmu manejemen yang biasa disebut dengan organisasi pembelajar (LEARNING ORGANIZATION). Definisi tentang organisasi pembejar dikemukkan oleh FEDLER, BOYDLELL dan BURGOYNE (1988).Menurut fedler dkk.(DALE,2003) suatu organisasi pembelajar adalah organisasi yang ; 
Mempuanyai suatu dimana anggota-anggotanya secara individu terdorong untuk belajar da mengembangkan potensi penuh mereka 
Memperluas budaya belajar ini sampai pada pelanggan, pemasok, dan stakeholder lain yang siknifikan
Menjadikan strategi pengembangan sumber daya manusia sebagai pusat kebijakan bisnis, dan 
Berada dalam proses transformasi oraganisasi secara terus menerus. 
Tujuan proses transformasi sebagai aktifitas sentral, adalah agar organisasi mampu mencari secara luas ide-ide baru, masalah-masalah baru dan peluang-peluang baru untuk pembelajaran, dan mampu memanfaatkan keunggulan kompetitif dalam dunia yang semakin kompetitif.
Sekolah /madrasah sebagai organisasi pembelajar merupakan kumpulan dari individu pembelajar yang ada didalamnya. Namun demikian, sekolah/madrasah dapat dikatakan sebagai organisasi pembelajar jika memiliki ciri-ciri ;
Sekolah/ madrasah memberikan kesempatan dan mendorong setiap individu yang ada didalamnya untuk terus belajar dan memperluas kapasiras dirinyadan
Sekolah/ madrasah tersebut meruakan organisasi yang siap menghadapi perubahan dengan mengelolah perubahan itu sendiri (managine cahange). 
Untuk menjadi sebuah oragnisasi pembelajar,sekolah/madrasah harus mampu mendorong timbulnya suatu kondisi prasyarat yang oleh PETER Senge disebut sebagai lima hal inti dalam pembentukan organsasi pembbelajar. Kondisi prasyarat dirancang dan dilaksanakan secara sistematis oleh sekolah/madrasah. Kelima hal tersebut adalah ;
Keahlian pribadi (PERSONAL MASTERY);
Model mental (mental model)
Visi bersama (shared vision)
Pembelajaran tim(team learning)
Pemikran sistem (sistem thinking) (sange, 1990)
Sementara itu, michael j.Marqaurdt menambahkan satu kondisi prasyarat lagi yaitu dialog (dialogue).sedangkan Guthrie menambahkan dan menyempurnakan dengan empal hal sebagai beriku ; 
Pembelajaran tim dan pembelajaran umum(public and team learning)
Bertindak penuh makna dengan memperhitungkan berbagai kemungkinan ( Acting in highlevel of ambiguity)
Dialog secara umum (dialogue generatyvely)
Melihat organisasi sebagai satu kesatuan yang tidak terpisahkan (viewing the organization as an integrated whole).
Penguasaan pribadi (personal mastery)adalah suatu budaya dan organisasi yang diterapkan sebagai cara bagi semua individu dalam oraganisasi untuk bertidak dan melihat dirinya.Pengusaan pribadi ini mestinya harus sangad dikuasai oleh orang-orang yang bekerja disekolah/madrasah. Hal tersebut dikarenakan disekolah/madrasah kondisi ini dituntut pada semua jenis mata pelajaran untuk mampu menginternalisasikan kecakapan hidup (live skill).Dalam kecakapan hidup tersebut salah satu yang harus diinteralisasikan adalah adalah kecakapan mengenal diri sendri. Tentu saja sangad sulit untuk menginternalisasikan nilai-nilai ini kepada siswa sekolah/madrasah, jika para guru tidak memiliki kemampuan untuk mengenal dirinya sendiri. 
Penguasaan pribadi merupakan suatu disipin yang mestinya harus dimiliki oleh setiap orang yang menginginkan kehidupan yang baik. Dengan penguasaan diri seseorang akan mengetahui apa yang harus dilakukan dan apa yang tidak perlu dilakukan. Pengeuasaan diri yang baik akan membentuk kemampuan untuk senantiasa mengklarifikasiakan an mendalami visi pribadi, memfokuskan energi, mengembangkan kesabaran, dan memandang realiras secara objektif.engusaan pribadi juga merupakan kegiatan belajar untuk meningkatkan kapasitas pribadi kita untuk menciptakan hasil yang paling kita inginkan, dan menciptakan 

BAB 3
PENUTUP
A. KESIMPULAN
Sekolah sebagai organisasi adalah perkumpulan sosial yang dibentuk oleh masyarakat, baik yang berbadan hukum maupun yang tidak berbadan hukum, yang berfungsi sebagai sarana partisipasi masyarakat dalam pembangunan bangsa dan Negara. 
Sekolah sebagai organisasi sosial dalam sosiologi, peran dan fungsinya sebagai berikut :
1.    Fungsi manestifasi Pendidikan 
2.    Fungsi Laten Lembaga Pendidikan
Ada beberapa faktor yang dapat memepengaruhi perbedaan dalam susunan organisasi sekolah, antara lain :
1.      Besar Kecilnya Sekolah 
2.      Letak Sekolah
3.      Jenis dan Tingkatan Sekolah 

B. SARAN
Makalah yang saya susun semoga bisa membantu kita lebih memahami tentang sekolah/madrasah sebagai organisasi pembelajar yang lebih mendalam.
Semoga dengan adanya makalah ini kita semua para pembaca akan lebih bersemangat untuk mencari tahu apa yang akan dipelajari selanjutnya dalam mecari tahu apa yang akan dipelajari.
Mohon dimaklumi dari semuanya jika dalam makalah kami ini masih terdapat banyak kekeliruan baik bahasa maupun pemahaman. Karena tiadalah sesuatu yang sempurna yang bisa manusia ciptakan.